Follow by Email

Sunday, April 28, 2013

Penyebab Kemunduran Islam dI India (Muhammad Iqbal)

Sebab-sebab Kemunduran Islam di India
Menurut Muhammad Iqbal (1877 M-1938 M)

Oleh: Suhendra*


A.    Pendahuluan
Kebekuan pemikiran yang melanda umat islam selama lima ratus tahun terakhir di Negara India, menyebabkan terjadinya kemunduran tersendiri dalam segi pengetahuan pada masa itu. Hukum islam dikatakannya bersifat statis, namun menurut iqbal selaku perintis pembaharu mengatakan bahwa, hukum islam itu tidaklah bersifat statis melainkan dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Islam menolak konsep lama yang mengatakan bahwa alam ini statis. Islam mempertahankan konsep dinamisme dan mengakui adanya gerak dan perubahan dalam hidup masyarakat manusia. Konsep yang dipakai dalam gerak dan perubahan itu ialah ijtihad. Oleh sebab itu, ijtihad mempunyai kedudukan penting bagi pembaharuan dalam islam. Seperti pernyataannya sendiri bahwa; “ijtihad merupakan prinsip gerak dalam Islam.”[1] Dengan kalimat ini, Iqbal tampaknya hendak mengingatkan bahwa tanpa ijtihad yang kreatif dan terus-menerus, kaum Muslimin akan dilanda kebekuan berfikir, taklid, dan penolakan terhadap segala sesuatu yang baru. Dalam konteks inilah, sosok Paham dinamisme yang ditonjolkannya membuat iqbal memiliki peran penting dalam pembaharuan pemikiran di india. Karena itulah ia berpendapat bahwa pintu ijtihad tidak tertutup. Tokoh yang pertama menyuarakan ini ialah Ibnu Taimiyah.

Mengenai permasalahan kemunduran itu sendiri, berpengaruh terhadap pembaharuan yang digerakan oleh Muhammad Iqbal terhadap umat islam ini. Maka sikap iqbal terhadap negaranya itu, ingin sekali memajukan dan merubah pola pemikiran mereka yang tertinggal. Hal ini terbukti dengan menghadirkanya Negara baru khusus umat muslim di india, yaitu bernama “Pakistan”. Dengan sifat nasionalisnya, ia pun sebelumnya sempat menganjurkan terbentuknya persatuan umat islam dan umat hindu di tanah air India, meskipun kenyataannya itu tidak terwujud, dikarenakan adanya faktor yang tidak mungkin dapat menyatukan mereka. 

B.     Biografi Muhammad Iqbal

Sir Muhammad Iqbal[2] merupakan sosok reformis Islam, politisi, penyair, ahli hukum serta sosok yang ahli dalam filsafat pendidikan. Ia dilahirkan di Sialkot, Punjab, India (sekarang termasuk wilayah pakistan). Pada 9 November 1877 M,  bertepatan pada tanggal 3 Dzul Qa’dah. Hal ini juga diperkuat dari hasil penelitian terakhir yang mengungkapkan bahwa Muhammad Iqbal lahir pada tahun 1877, bukan 22 Februari 1873 seperti yang kita kenal selama ini. Iqbal merupakan keturunan dari kasta Brahma Kasymir, yang terkenal dengan kebijaksanaan rum dan tabriz nya,[3]  dari keluarga yang nenek moyangnya berasal dari Lembah Kasymir. Kurang lebih pada tiga abad yang lalu, ketika dinasti Moghul yaitu sebuah dinasti Islam terbesar yang berkuasa di India, salah seorang nenek moyang Iqbal masuk Islam, dan nenek moyangnya tersebut masuk Islam dibawah bimbingan Syah Hamdani, seorang tokoh Muslim pada waktu itu.[4] Iqbal termasuk dari kalangan keluarga sufi dimana kakeknya bernama Syeikh Muhammad Rofiq, berasal dari daerah Lahore, Kasymir, yang kemudian hijrah ke Sialkot, Punjab. Sedangkan ayahnya bernama Syeikh Muhammad Nur, beliau adalah seorang sufi yang zuhud. Ayah iqbal di kenal dengan orang yang shaleh,  Bekerja keras demi agama dan kehidupan. Begitu juga dengan Ibu Muhammad Iqbal, adalah seorang wanita yang solihah dan taqwa beragama.[5]

Muhammad Iqbal memulai pendidikannya pada masa kanak-kanak yang dibimbing langsung oleh ayahnya sendiri, yakni Syeikh Nur Muhammad, Setelah itu Iqbal di masukkan ke sebuah surau untuk mengikuti pelajaran Al Qur’an dan menghafalkannya serta ia menerima pendidikan Islam lainnya secara klasik di tempat tersebut. Pendidikan formal Iqbal dimulai di Scottish Mission School di Sialkot. Ia yang dalam hal ini masih dalam usia remaja telah memperoleh bimbingan yang sangat berarti yang utama dan serta diketahui kecerdasannya oleh gurunya yang bernama Maulana Mir Hasan,[6] seorang ahli dalam bahasa Persia dan Arab, yang juga sebagai teman dari ayah Iqbal, Nur Muhammad.

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Sialkot, pada tahun 1895 Muhammad Iqbal yang cerdas dan penyair yang berbakat ini hijrah ke Lahore untuk melanjutkan studinya di Governtment College sampai ia berhasil memperoleh gelar B.A pada tahun 1897 kemudian ia mengambil program Masters of Arts (MA) pada bidang filsafat pada tahun 1899. Ia juga mendapat medali emas karena keistimewaanya sebagai satu-satunya calon yang lulus dalam ujian komprehensif akhir. Dan di kota itulah ia berkenalan dengan Thomas Arnold, seorang orientalis, yang menurut keterangan, mendorong pemuda Iqbal untuk melanjutkan studi di Inggris.[7]

Pada tahun 1899 Iqbal sempat menjadi dosen di Oriental College, Lahore, pada bidang bahasa Arab. Kemudian pada tahun 1905 ia meninggalkan Lahore dan hijrah menuju Eropa tepatnya di Inggris atas dorongan dan bimbingan Thomas Arnold. Untuk melanjutkan studinya, Iqbal masuk di Universitas Cambridge sebagai usahanya dalam mempelajari dan mendalami bidang filsafat pada R.A. Nicholson. Pada Universitas ini, Iqbal juga mendapat bimbingan dari para dosen-dosen filsafat terkemuka, diantaranya adalah James Wart dan J.E Mac Tegart, seorang Neo Hegelian, dimana selain itu Iqbal juga mengambil kuliah hukum dan ilmu politik di Lincoln Inn London dan berhasil lulus ujian keadvokatan dan memperoleh gelar M.A.[8] Dua tahun kemudian, yakni pada tahun 1907 ia pindah ke Jerman dan masuk ke Universitas Munich, di Universitas ini ia mendapatkan gelar Ph.D (Doktor) dalam bidang filsafat dengan tesis berjudul “The Development of Metaphysics in Persia” (Perkembangan Metafisika Persia).[9] Dan ketika tesisnya diterbitkan, ia persembahkan pada Thomas Arnold. Hal itu berarti, selama tiga tahun di Eropa, Iqbal meraih gelar formal Bachelor of Art (B.A) dalam bidang seni dan advokat, serta gelar Doktor dalam bidang filsafat. Hal ini merupakan sebuah prestasi yang spektakuler dan tentu sulit dicari tandingannya di abad modern ini.

Wafatnya Muhammad Iqba
Iqbal tidak diberi umur panjang untuk melihat realisasi dari impiannya tentang Negara Muslim. Ia meniggal dunia pada 18 Maret 1938, sedikit kurang lebih sembilan tahun sebelum berdirinya Pakistan. Tetapi pada waktu perjuangan akhir terjadi di propinsi yang sangat penting, yaitu Pujab, di antara orang-orang yang menghempaskan bangunan Unionist dan meretakan jalan untuk berdirinya Pakistan, adalah anak-anak muda, laki-laki dan perempuan, yang telah minum sepuas-puasnya dari pencurahan puisi Iqbal. Seperti halnya Chaudhari Rahmat Ali yang tertarik dengan semangat juangnya Iqbal. Memang pena lebih tajam daripada pedang.[10]

Puncaknya, pada tahun 1935, Iqbal Jatuh sakit, dan sakitnya semakin menjadi tatkala Istrinya meninggal dunia pada tahun itu juga.[11]  Penyakit tenggorokan yang menyerangnya sejak tahun 1935 dan ditambah pula penyakit katarak di tahun 1937 tidak menyurutkan keinginan dari Iqbal untuk tetap menulis. Dan keadaannya yang paling kritis terjadi pada tanggal 19 april 1938. Para dokterpun telah berusaha semampu mereka dalam meringankan sakitnya. Sedangkan Iqbal sendiri telah merasa bahwa ajalnya telah dekat dan tanpa rasa takut ia mengemukakannya. Beberapa hari sebelum meninggal dunia, ia selalu menekankan bahwa dalam menghadapi kematian, hendaknya seorang Muslim menerimanya dengan rasa gembira. Hal itu pun tak lepas dari sajaknya Iqbal : “Kukatakan padamu ciri seorang Muslim, bila maut datang, akan merekah senyum di bibir”. Demikian itulah keadaan iqbal pada waktu manyambut kematiannya. Ia merintih sebentar dan kemudian dengan tersenyum ia kembali kepada sang kholiknya, tanpa merasakan sakaratulmaut. Maut itu ia sambut dengan hati yang tenang. Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya-lah kita akan kembali.[12] 

C.    Sebab-sebab Kemunduran di India

Kemunduran yang terjadi di India pada masa Muhammad Iqbal dikarenakaan cenderung konservatifnya[13] masyarakat dalam menghadapi kemajuan. Mereka menganggap tidak ada lagi pintu ijtihad untuk membuka pembaharuan, mereka pula mengatakan bahwa hukum islam itu bersifat statis, namun menurut iqbal hukum islam tidaklah statis akan tetapi dapat berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

 Selanjutnya Iqbal melihat kezuhudan (zuhd) juga turun bertanggung jawab terhadap kemunduran umat, karena umat akan terbawa pada penolakan hidup materi untuk semata mencurahkan seluruh potensi pada ritus-ritus keagamaan semata. Dalam kaitannya dengan ini tampaknya kezuhudan yang berpengaruh di India juga di persubur oleh faham-faham keagamaan di luar islam seperti faham agama budha, yang penganjur utamanya yaitu ghautama jelas-jelas telah melepas kehidupan materialnya dalam upaya untuk menemukan hakikat hidup nirwana. Dan sebab kemunduran  di dalam agama islam sendiri dengan sikap zuhudnya ialah terdapat dalam tasyawuf. Sikap zuhud di dalam tasyawuf mengajarkan bahwa perhatian kita harus berpusat kepada tuhan dan apa-apa di balik alam materi. Ajaran itu pada akhirnya menyebabkan kurangnya mementingkan soal-soal kemasyarakatan dalam islam.[14]

Maka menurut Iqbal dari apa yang telah diketahuinya terhadap sikap zuhud dari tasyawuf yang dilakukan oleh para sufi yang sebenarnya adalah tidak di tempuh dengan cara meditasi, atau bertapa melainkan kerja keras yang orisinil, halal, diliputi cinta, penuh keberanian, penuh toleransi dan bukan minta-minta. Hidup bersosial dengan menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan tidak selalu berpusat melakukan ibadah terhadap tuhannya, Maka sikap sufi menjadi titik balik dari prilaku yang biasanya.

Keterangan lain menyangkut ajaran tasyawuf dalam disertasinya tentang Development of Metaphysics in Persia, yang dimana pada waktu belajarnya ia sampai pada kesimpulan bahwa tasyawuf (atau apa yang dikatakan mistik islam) tidak mempunyai dasar yang kukuh dan historis dalam ajarana  islam yang murni. Ia menulis pada kawanya Khwaja Hasan Nizami, dan minta kepadanya beberapa bukti yang menyakinkan bagi teori yang menyatakan bahwa tasyawuf adalah bentuk esoteris islam. Jawaban-jawabannya tidak memuaskan Iqbal, dan berangsur-angsur dia sampai kepada kesimpulan bahwa dalam islam, tasyawuf merupakan pertumbuhan yang asing, bahkan tidak sehat.[15]

Selain itu, jatuhnya kota Baghdad menurut Iqbal merupakan puncak penyebab kebekuan intelektual kaum muslimin. Seperti diketahui Baghdad merupakan pusat kemajuan pemikiran islam sampai pertengahan abad ketiga hijriyah. Ditambah lagi adanya sikap kaum konserpatif menolak negara untuk pembaharuan dalam bidang hukum islam untuk kemudian berpegang teguh pada produk ijtihad ulama pada masa dahulu. Dengan kata lain, mereka menganggap pintu ijtihad telah tertutup, benar-benar mempunyai peranan besar terhadap terjadinya stagnasi intelektual tersebut. Terapi yang diberikan oleh Iqbal ialah menghidupkan kembali upaya ijtihad secara bebas. Lebih jauh iqbal mengemukakan pentingnya pemindahan otoritas ijtihad dari wakil-wakil mazhab kepada dewan islam, dan ia menyatakan inilah kemungkinan ijma` dewasa ini dapat terjadi.[16] Ijtihad berarti upaya mencurahkan segenap kemampuan intelektual, dan ini berarti menempatkan akal pada kedudukan yang tinggi. Bahkan menurut Iqbal ijtihad merupakan “the principle of movement in the structure of islam”.

 Dengan demikian dalam konsep ijtihad terdapat pula aspek perubahan, karena dengan adanya perubahan itulah ijtihad perlu dilakukan. Dengan adanya perubahan, sekaligus perkandungan dinamika kehidupan umat manusia, bahkan juga dinamika alam semesta. Dari sinilah Iqbal amat cerdik sekali menemukan ajaran dinamisme. Ia menangkap adanya prinsip dinamika hampir pada semua segi, termasuk jatuh bangunnya suatu umat juga tidak terlepas dari prinsip dinamika ini. Harun nasution menyimpulkan bahwa faham dinamisme yang ditonjolkan inilah yang membuat Iqbal mempunyai kedudukan penting dalam pembaharuan di India. (Muhammad Iqbal, 1981: 148). Memang terapi Iqbal dengan faham dinamikanya ini amat tepat dilihat dari sudut keminoritasan komunitas muslim ditengah-tengah komunitas hindu yang mayoritas, karena dengan menyuntikkan kapsul dinamika itu kedalam komunitas muslim menyebabkan mereka dapat tampil dengan eksistensi secara penuh.

Dalam syair-syairnya sebagaimana dinyatakan oleh harun nasution Iqbal mendorong umat islam supaya bergerak dan jangan tinggal diam, intisari hidup adalah gerak, sedang hukum hidup ialah menciptakan, maka Iqbal berseru kepada umat islam supaya bangun dan menciptakan dunia baru. (Harun Nasution, 1988: 192). Untuk keperluan ini umat islam harus menguasai ilmu dan teknologi, dengan catatan agar mereka belajar dan mengadopsi ilmu dari barat tanpa harus mengulangi kesalahan barat memuja kekuatan materi yang menyababkan lenyapnya aspek etika dan spiritual.

Dalam pemikiran pembaruannya, Iqbal tidak menjadikan Barat sebagai model, iqbal menolak kapitalisme dan imperialisme Barat. Namun menerima sosialisme, ia melihat adanya persamaan antara islam dan sosialisme. Akan tetapi Barat menurut pendapatnya banyak dipengaruhi oleh materialisme dan meninggalkan agama. Yang harus diambil oleh umat islam dari Barat adalah pengetahuannya. Sebelum pergi ke Barat, Iqbal adalah seorang nasionalis India (an India nasionalist) yang menginginkan persatuan komunitas muslim dan komunitas hindu dalam satu tanah air, India. Tatapi kemudian ia mengubah pandangannya itu. Nasionalisme india yang mencangkup kaum muslim dan umat Hindu adalah ide yang bagus, katanya. Tetapi sulit untuk diwujudkan. Ia curiga dibelakang nasionalisme india terletak konsep Hinduisme dalam bentuk baru. (Ensiklopedi Tematis: Dunia Islam,  410-411).

Di india terdapat dua umat besar, demikian Iqbal, dan dalam pelaksanaan demokrasi Barat di india, kenyataan ini harus diperhatikan. Ia mengatakan bahwa tuntutan umat islam untuk memperoleh pemerintahan sendiri merupakan tuntutan yang wajar, terpisah dari Negara Hindu India. Tujuan pembentukan Negara tersendiri itu ia tegaskan dalam rapat tahuanan Liga Muslimin India pada tahun 1930. Karena itu tidaklah salah bila Iqbal disebut sebagai Bapak Pakistan. Ide pembentukan Negara tersendiri bagi umat islam di India (kelak menjadi Pakistan), tidaklah bertentangan dengan pendirian iqbal tentang persaudaraan dan persatuan umat islam. Ia bukan seorang nasionalis dalam arti sempit. Ia sebenarnnya adalah seorang pan-Islam (a champion of muslim nationhood). Islam, demikian ia menjelaskan, bukanlah Nasionalisme dan bukan pula imperialisme, melainkan Liga Bangsa-Bangsa. 
  
D.    Kesimpulan
                                         
Iqbal adalah produk dari kekuatan-kekuatan yang satu sama lain saling bertentangan, dan seorang Muslim sosialis, juga paham-paham yang sangat reaksioner bisa menempatkan bait-bait puisinya untuk mendukung ideologi-ideologi yang satu sama lain saling bertentangan. Namun demikian, pada asasnya ia merupakan pemikir yang kuat, tidak terikat oleh adat kebiasaan, dan lebih memandang ke depan dari pada ke belekang. Ia mencintai lembaga-lembaga Islam, bahkan simpati pada kefanatikan Muslim. Tetapi fakta yang fundamental dari sebagian orang yang mengaguminya lupa bahwa konsepsinya tentang Islam adalah “dinamis” dan lebih daripada “statis”. Ia menyatakan Islam itu menolak pandangan statis yang kuno tentang alam semesta dan meningkat kepada suatu pandangan yang dinamis. Karena pada hakekatnya islam itu mengajarkan dinamisme. Sebenarnya pada zaman klasik islam tampak sangat dinamis, hal itu dapat terjadi karena adanya keyakinan dan system social dipusatkan pada Al-Qur’an.

Kemudian Iqbal juga mengungkapkan bahwa faktor kemunduran umat islam itu, karena adanya sikap zuhd yang ada pada ajaran tasyawuf. Karena ajaran tersebut menyebabkan umat Islam kurang mementingkan soal-soal kehidupan bermasyarakat. Bagaimna untuk hidup bersama, bertukar fikiran dan saling memberi informasi satu sama lainya. Peneyebab lain adalah runtuhnya Baghdad sebagai pusat kemajuan pemikiran umat islam pada pertengahan abad ke-13. Juga kaum konservatif yang menolak pembaharuan dalam bidang syari’at dan menganjurkan untuk berpegang teguh pada hukum-hukum yang telah ditentukan oleh ulama terdahulu saja. Maka dengan demikian, anggapan mereka pintu ijtihad telah tertutup. Disana Iqbal melihat bahwa perkembangan kaum Muslim menurun drastis serta kehilangan kemauan dan kekuatan untuk menghambat kemunduran itu, apalagi menghentikannya. Keadaan yang terbelakang demikian, membuat Iqbal memberi kritik terhadap umat Islam untuk segera memperbaharui sikapnya menjadi progresif. Kritik tersebut selain ditujukan dalam bidang filsafat, hukum, sufisme, juga masalah budaya yang di dalamnya terkait masalah pendidikan.


BAHAN ACUAN

Abdullah, Taufik. Dkk. Ensiklopedi Tematis: Dunia Islam, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.
Ali, Mukti. Alam Pikiran Islam Modern: Di India dan Pakistan, Mizan, Bandung. 1993.
Iqbal, Muhammad. 1950, The Secrets of The Self : A Philoshopical Poem, Trans. By R.A. Nicolson (Lahore: Syeikh Mohammad Asraf Kasmiri Bazar).
------------------------ Filsafat dan Puisi Iqbal, Pustaka, Bandung, 1954.
Nasution, Harun. Pembaharuan Dalam Islam. : Sejarah Pemikiran Dan Gerakan, Bulan Bintang, Jakarta, 1988.
Rosenthal, EIJ. Islam In The Modern National States, University Press, Cambridge,1965.
Rosihan Anwar dan Abdul Rozak, Ilmu Kalam, Bandung : Pustaka Setia. 2001.
Saefuddin, Didin. 2003, Pemikiran Modern dan Postmodern Islam, Jakarta : Gresindo
Sugono, Dendy. Dkk. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Pusat Bahasa, Jakarta. 2008.



[1] Dikutip dalam “Polemik Sosiologi Pembaruan Pemikiran Islam Nurcholish Madjid”,  dalam Jurnal Ulumul Qur’an, Vol. 4, No. 1 (1993), hal. 46. 
[2] Muhammad Iqbal dianugerahi gelar Sir oleh Universitas Tokyo, sebuah Universitas tertua di Jepang.
[3] Iqbal, Mohammad. The Secrets of The Self : A Philoshopical Poem, Trans. By R.A. Nicolson (Lahore: Syeikh Mohammad Asraf Kasmiri Bazar, 1950), hal. 14.
[4] Iqbal, Muhammad. Filsafat dan Puisi Iqbal, (Bandung: Pustaka, 1954) hal. 13
[5] Ibid,. hal 13-15
[6] Saefuddin, Didin.  Pemikiran Modern dan Postmodern Islam, (Jakarta : Gresindo, 2003), hal 45
[7] Nasution, Harun. Pembaharuan dalam Islam Sejarah Pemikiran dan Gerakan, (Jakarta : Bulan Bintang, 1990), hal. 190.
[8] Ali, Mukti. Alam Pikiran Islam Modern: Di India dan Pakistan (Bandung : Mizan, 1993) hal 174
[9] Anwar,  Rosihon.  Abdul Rozak, Ilmu Kalam, (Bandung : Pustaka Setia, 2001), hal. 220.
[10] Ali, Mukti. Alam Pikiran Islam Modern: Di India dan Pakistan (Bandung : Mizan, 1993) hal 188-189
[11] Ibid.,  hal. 221
[12] Iqbal, Muhammad. Filsafat dan Puisi Iqbal, (Bandung: Pustaka, 1954) hal. 38-40
[13] Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) konservatif artinnya  kolot atau bersikap mempertahankan keadaan, kebiasaan, dan tradisi lama (yg turun temurun).
[14] Nasution, Harun. Pembaharuan Dalam Islam. : Sejarah Pemikiran Dan Gerakan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1988.) hal 191.
[15] Ali, Mukti. Alam Pikiran Islam Modern: Di India dan Pakistan (Bandung : Mizan) hal 175.
[16] Rosenthal, EIJ. Islam In The Modern National States, (Cambridge: University Press, 1965) hal 205.

No comments:

Post a Comment