Follow by Email

Saturday, April 27, 2013

Dayak Losarang Indramayu'


Suku Dayak Hindu-Budha Bumi Segandu Indramayu

(Dayak Losarang)

Oleh: Suhendra*






Suku dayak Hindu-Budha Bumi Segandu, atau singkatnya suka disebut dengan suku dayak Losarang Indramayu adalah suku dayak yang berlokasi di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Penamaan Suku Dayak ini mengandung makna sebagai berikut: Kata “Suku” artinya kaki, yang mengandung makna bahwa setiap manusia berjalan dan berdiri di atas kaki untuk mencapai tujuan hidupnya sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan masing-masing. Kata “Dayak” berasal dari kata “ayak” atau “ngayak” yang bermakna memilih atau menyaring. Artinya memilih dan memilah mana yang benar dan mana yang salah. Kata “Hindu” artinya kandungan atau rahim. Bahwa setiap manusia dilahirkan dari kandungan sang Ibu (perempuan). Sedangkan kata “Budha”, asal dari kata “wuda”, yang artinya telanjang. Makna filosofinya adalah bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang. Selanjutnya adalah kata “Bumi Segandu Indramayu”. “Bumi mengandung makna wujud, sedangkan “Segandu” bermakna sekujur badan. Gabungan kedua kata ini, yakni “Bumi Segandu” mengandung Makna filosofinya sebagai kekuatan hidup. Adapun “Indramayu”, sesuai dengan nama daerahnya, yang dimana terdapat kata “In” maknanya adalah “inti”, “Darma” artinya orang tua, dan kata “ayu” maknanya perempuan. Makna filosofinya adalah bahwa ibu (perempuan) merupakan sumber hidup, karena dari rahimnyalah kita semua dilahirkan. Maka pantas sekali setiap kaum hawa (Perempuan) yang ada disana lebih dihormatinya. Jadi penyebutan kata “suku” pada komunitas ini bukan dalam konteks terminologi suku bangsa (etnik) dalam pengertian antropologis, melainkan penyebutan istilah yang diambil dari makna kata-kata dalam bahasa daerah (jawa).

Pemimpin suku dayak bernama “Takmad Diningrat” dan kepala sukunya di beri julukan ‘Paula’. Suku dayak ini berjiwa sosialis, toleran, dan bebas. Dari dahulu Sampai sekarang, suku dayak ini masih menjejaki adat Kuno/primitif. dalam mengkonsumsi makanan contohnya diharuskan alami berasal dari alam, tidak dicampuri bahan-bahan buatan luar, apalagi mengandung zat kimia. Dan suku dayak losarang ini tidak mengikuti agama manapun, seperti halnya agama-agama lain, seperti Islam, Kristen, Yahudi dan sebagainya. Meski masih tetap tercampuri sedikit  budaya Hindu Budha, sesuai dengan nama sukunya. Namun memiliki pegangan tersendiri dan lebih pada istilah komunitas yang independen yang dikepalai oleh pemimpinnya. Dan nama dari panutan komunitas itu lahir secara turun temurun dan berubah-ubah, kalau dahulu namanya Pewayangan. Mengambil dari keteladanan tokoh para wayang, seperti Semar, dan Pandawa Lima, lalu kesanghyangan, berganti lagi menjadi kerajaan, baru adanya sedikit yang mengarah pada nama agama itu di era sekarang ini, yakni bernama “Jawa Agama”. Bentuk ritualnya persis seperti manaqiban “Deba’an” yang selalu di lakukan oleh agama islam pada malam Jum’at. Ritual suku dayak ini pun dilakukan secara rutin, namun setiap malam jum’at kliwon khususnya, yang bertempat di pendopo Nyi Ratu Kembang.

Ciri khas pakaian suku dayak losarang berwarna hitam dan putih, tanpa sehelai pun pakaian atas (Baju). Hanya mengenakan celana sebetis berwarna belang, hitam dan putih. Terdapat 3 pandangan etika dalam hal berpakaian yaitu, pertama pakaian yang dianggap umum, kedua pakaian yang dianggap Biasa dan ketiga pakaian yang dianggap Preman. Pakaian yang dianggap Umum adalah pakaian yang umumnya orang lain pakai, yakni lengkap dengan baju celana dan warna serta coraknya berbeda-beda. Sedangkan pakaian yang dianggap biasa adalah  pakaian yang sehari-hari mereka pakai, yaitu hanya memakai celana yang sebelah berwarna Hitam dan sebelahnya Putih.  Dan pakaian yang dianggap preman ialah pakaian pada umumnya/pakaian yang seperti dipakai oleh orang kebanyakan namun dipakai oleh suku dayaknya sendiri. Arti memakai pakaian  berwarna hitam putih, sebelah kanan putih dan kiri hitam adalah melambangkan putih itu langit dan hitam itu Bumi, dan manusia sebagai penghuninya. Maka langit dan bumi harus selalu dekat dengan diri manusia dengan cara memakai pakaian yang bermakna simbolis  tersebut. Serta dianggap juga sebagai sebuah kebebasan setiap individu.

Konsep ajaran yang dimiliki suku dayak ini ialah ‘mawas diri’, atau sadar terhadap diri sendiri. ‘Ngaji alam’ dan ‘ngaji rasa’, setelah mengetahui akan dirinya maka harus merasakan hakikatnya alam, dengan cara penyatuan terhadap alam, merasakan benda hidup ataupun mati, maka setelah itu dikembalikan kepada diri sendiri, apakah manusia itu sudah benar dalam menjalankan kehidupan selama didunia, ataukah selalu salah yang dilakukannya. Karena pandangan manusia itu jikalau dalam mencari kebenaran selalu susah, namun jika mendapatkan kesalahan pasti mudah melakukannya. Maka dengan watak yang dimiliki oleh manusia jika sudah dirubah dengan merasakan kesadaran akan dirinya, dan sadar akan perbuatan-perbuatannya. Pasti tidak akan berbuat jahat, namun akan timbul rasa humanisme, saling menyayangi sesama manusia juga  alam, melarang dirinya berbuat jahat, sabar dalam menerima cobaan dan bersikap toleran.

Suku dayak ini rentan sekali dengan masalah perpolitikan, apa lagi dengan aturan-aturan pemerintah yang dianggapnya tidak benar dan tak beraturan, kacau Dan selalu merugikan masyarakat. jikalau ada pemilihan parpol misalnya, suku dayak losarang ini tidak akan ada satu orangpun yang mau memilih, alasanya karena kebebasan hak individu mau memilih atupun tidak, tidak memihak kekiri atau pun ke kanan, harus lurus terhadap keyakinan diri.  jika pun memilih salah satu dari si calon parpol, mereka menganggap sebuah diskriminatif dan merasa kasihan jika hanya dari salah satu yang harus dipilihnya, sedangkan yang lainya tidak dibantu.

Wanita di suku dayak ini dianggap sebagai raja, harus menghormatinya serta harus menuruti kehendaknya. Karena wanita  adalah sumber kehidupan dan sosok yg melahirkan anak sebagai generasi. Sedangkan makna ukiran atau ornamen patung-patung yang bergambar Wayang-wayang yang terpampang di dinding bermaknakan sebuah watak atau sifat-sifat yang dimiliki oleh manusia, khususnya para dayak losarang ini, yang disamakan dengan wataknya wayang tersebut.





No comments:

Post a Comment