Follow by Email

Tuesday, January 1, 2013

IlMU LOGIKA



BAB I                                                                                                                                 PENGERTIAN LOGIKA
A.    Definisi Logika
Kata logika berasal dari kata “Logike” (Kata sifat dari kata logos), dari bahasa yunani, yang kemudian dirangkai dengan kata benda Scientia artinya ilmu, lalu menjadi Scientia Logika, kemudian hanya disebut logika. Menurut definisi yang banyak kita jumpai tentang logika ialah bahwa logika itu cabang filsafat yang mempelajari asas-asas dan aturan-aturan penalaran supaya orang dapat memperoleh  kesimpulan yang benar. Jelasnya logika memuat asas-asas dan aturan-aturan yang membantu kita untuk berfikir benar.
B.     Alasan mempelajari Logika
Bagi orang yang hidup tanpa pikiran yang sungguh-sungguh tentu saja tidak pernah memikirkan tentang logika, mereka tidak pernah menyadari untuk mempelajari logika. Ada juga orang yang beranggapan bahwa tanpa belajar logika juga dapat berpikir jauh lebih hebat daripada orang–orang yang pernah belajar logika. Lain halnya dengan orang–orang yang biasa berfikir ilmiah, mereka adalah orang-orang yang kritis dan teliti, mereka dalam kehidupan sehari-hari tidak puas terhadap pengalamanya saja tetapi mencari dasar dan hukum-hukum yang dapat memberi penjelasan tentang pengalamannya itu.
Selain harus memikirkan hal-hal yang melamapui pengalamaman juga harus dapat mengontrol pikiranya sehingga dirinya dapat segera menyadari apabila suatu saat membuat kekeliruan dalam berfikir. Dengan mempelajari logika mereka menjadi lebih teliti dengan kata-kata yang digunakan.  Mereka akan memilih kata-kata yang tepat dengan pikiran yang hendak mereka kemukakan, mereka juga menyusun kalimat yang benar dan baik agar dapat dimengerti olah orang lain dan ditangkap oleh orang lain sesuai dengan maksud yang dikehendakinya. Dengan singkat dapat dikatakan logika dapat menambah kemampuan menggunakan akal atau menambah kecerdasan.
C.    Logika dalam kehidupan sehari-hari
Akibat dari bertambahnya pengalaman dan pengetahuan, manusia lebih suka menggunakan akalnya untuk bekerja daripda dengan menggunkan ototnya. Mereka menyadari bahwa menggunakan akal mereka dapat menghemat tenaga. Penggunaan akal ternyata lebih luas lagi, yaitu untuk mencari keuntungan yang lebih banyak dengan cara yang lebih mudah. Maka dalam  dunia perdagangan selalu digunakan akal untuk mempengaruhi orang banyak agar membeli sesuau barangnya. Dalam kehidupan sehari-hari orang juga berpikir logis tetapi tidak diperlihatkan langkah-langkah berfikir itu seperti pada ilmu logika. Tetapi secara langsung mereka menggunakanya, sebab kalu mereka berpikir dengan mencontoh seperti dalam belajar berfikir yaitu dengan menyebutkan langkah demi langkah maka nampak tolol sekali.
D.    Perkembangan Logika
Logika telah dirintis sejak beberapa abad sebelum  masehi yaitu dimulai di Yunani. Kemudian oleh Aristoteles diselidiki dan disusun secara sistematis dalam karya-karya yang disebut Organon atau alat. Pada zaman itu Aristoteles tidak memberi nama logika tetapi menyebutnya Dialektika, kemudian Cicero yang menyebut ilmu ini logika.
Aristoteles membagi ilmu-ilmu pengetahuan atas tiga golongan yaitu :
1)      Ilmu Pengetahuan praktis :
Ø  Politika
Ø  Etika
2)      Ilmu Pengetahuan Produktif :
Ø  Teknik
Ø  Kesenian
3)      Ilmu Pengetahuan Teoritis :
Ø  Fisika
Ø  Matematika
Ø  Methapisika (Filsafat)
Logika Aristoteles sampai kini dikenal sebagai logika tradisionoil . logika Aristoteles dikembangkan oleh filsuf filsuf sampai abad ke-19. Kemudian oleh Leibnitz dirintis logika modern yang kemudian berkembang amat pesat. Untuk melengkapi keterangan tentang perkembangan logika, disini terdapat macam-macam logika yang telah berkembang maupun yang baru tumbuh diantaranya :

1.      Chronological logic
2.      Combinatory logic
3.      Deontic logic
4.      Erotetic logic
5.      Functional logic
6.      Imperative logic
7.      Intentional logic
8.      Intutionist logic
9.      Many valued logic
10.  Modal logic
11.  Probabilistic logic
12.  Prohairetic logic
13.  Propositional logic
14.  Syollogistic logic
15.  Symbolic logic

E.     Logika sebagai Ilmu Normatif
Kalau dicari tempatnya dalam barisan ilmu maka logika termasuk ilmu normatife, yaitu ilmu yang membicarakan bagaimana yang seharusnya kita berfikir, dan bukan membicarakan berpikir seperti apa adanya. Logika memberikan pedoman supaya pikiran kita benar, dan logika memberika syarat-syarat untuk menetukan pernyataan yang benar.
F.     Logika harus dibedakan dari Psycologis
Psycolois mempelajari perkembangan pikiran, tentang pengalaman jiwa dan pengaruh-pengaruh perasaan, imajinasi, serta organ-organ yang bekerja selama terjadi kegiatan berfikir. Psycologi mempersoalkan orang yang sehat dan orang yang sakit misalnya, yakni berbeda kemampuan dalam berfikir. Orang bisa berfikir dengan baik jika hatinya sedang gembira, kesehatanya dalam kondisi yang baik pula. Tetapi logika tidak mempersoalkan orang, juga tidak mempersoalkan dalam keadaan bagaimana orang bisa menarik kesimpulan yang benar, tetapi mempersoalkan bagaimana kesimpulan itu dapat ditarik secara sah.

BAB II
PERLENGKAPAN MEMPELAJARI LOGIKA
A.    Logika dan Bahasa
Bahasa adalah alat untuk menyampaikan pikiran dan perasaan, tetapi bahasa juga sebagai alat berfikir. Dengan bahasa kita dapat merumuskan pikiran kita, dapat menyimpan peristiwa-peristiwa, dapat menyederhanakan pandangan–pandangan kita. Oleh karena itu logika dan bahasa selalu berkaitan dengan kata lain logika tergantung dari bahasa. Ada yang berpendapat bahwa sifat logika sangat relative (R.Carnap) tetapi H. Scholz  berpendapat bahwa relativitet dari logika tidak seberapa karena di dalam bahasa apapun juga orang berbahasa tentang hal yang sama. Oleh karena itu hukum-hukum logika dari berbagai-bagai bahasa garis besarnya adalah sesuai.
B.     Bentuk dan Materi dari Pikiran
Menurut Aristoteles semua benda terdiri dari materi (hyle) dan bentuk (morfe). Tiada benda yang hanya mempunyai bentuk saja atau materi saja. Pikiran juga mempunyai materi dan bentuk, bentuk pikiran itu menyusun materi atau isi dan pikiran, kalau kita sudah mempunyai materi pikiran dengan sendirinya sudah ada bentuknya.
C.    Validasi dan Kebenaran suatu Pernyataan
Validasi dan kebenaran suatau pernyataan dalam logika dibedakan, artinya adanya perbedaan ini mendapat perhatian yang istimewa. Bila ternyata kita telah berbuat menurut semua peraturan penarikan kesimpulan berarti kesimpulan yang kita tarik adalah sah atau valid. Sedangkan untuk membuktikan kebenaran pangkal pikir atau premisnya tidak saja dibicarakan dalam logika tetapi menyangkut juga metode ilmu, materi dan teknik dari ilmu pengetahuan yang membicarakan pernyataan itu. Oleh karena itu dibedakan anatara logika yang membicarakan kebenaran bentuk disebut formil dan logika yang membicarakan kebenaran materi disebut logika materil.

BAB III
PATOKAN DASAR LOGIKA
Dalam logika dikenal juga patokan itu yang disebut Axiom of Inference (oleh Ueberweg) dan oleh J.S. Mill disebut, “Universal Postulates of reasonings”. Axiom of inferens ini menjadi dasar hukum berfikir dan penarikan kesimpulan. Adapun axiom of inference ini terdapat empat hukum, tiga hukum dari Aristoteles dan satu hukum lagi oleh Leibnitz. Hukum-hukum yang dimakud ialah :
1.    Principium identitatis (Law of identity) atau disebut hukum identitas
2.    Principium contradictionis (Law of contradiction) atau hukum kontradiksi.
3.    Principium exlusi tertii (Law of exluded middle) atau hukum penyisihan jalan tengah.
4.    Principium rationis sufficientis (Law of sufficient reason) atau hukum cukup alasan.

BAB IV
PEMBAGIAN DAN PENGGOLONGAN MENURUT LOGIKA
A.    Pembagian secara Logis
Adalah pembagian dari satu himpunan yang  besar kepada kelompok yang dibawahnya (dari genus ke species yang terdekat). Dengan dasar satu prinsif tertentu atau fundamentum divisionis. Ada beberapa asas yang harus diperhatikan dalam mengadakan pembagian secara logis :
1.    Pembagian harus secara tuntas
2.      Kalau pembagian tidak berdasarkan satu prinsip tetapi memakai lebih dari satu prinsip disebut pembagian bersilang, atau cross division.
3.      Anggota himpunan harus terpisah, penyimpangan dari peraturan ini disebut pembagian saling meliputi atau Overlapping division.
B.     Pembagian dichotomy
Berdcasarkan hukum penyisihan jalan tengah, tidak ada kemungkinan ketiga maka dapat diadakan pembagian secara tuntas, yaitu membagi dua golongan yang saling terpisah. Pembagian menurut dichotomy ini ada kebaikannya yaitu sederhana dan tegas. Tetapi keburukannya adalah bagian yang negative tidak diketahui sesuatunnya.
C.    Menggolong-golongkan (Classification)
Menggolong-golongkan adalah mulai yang terkecil menuju himpunan yang lebih besar sampai yang terbesar. Mengadakan penggolongan harus juga memakai satu prinsif sehingga tidak terjadi penggolongan bersilang. Yang menjadi pedoman untuk mengadakan penggolongan itu adalah :
1.      Sifat bahan yang digolong-golongkan.
2.      Tujuan dan orang yang mengadakan pengolongan itu.
Adanya dua segi peninjauan itu dapat dibedakan antara penggolongan kodrati dan pengolongan buatan.
Natural Classification (penggolongan kodrati), yaitu penggolongan berdasar sifat yang melekat pada hal yang digolongkan itu. Sedangkan Artifical Classification (Penggolongan buatan), yaitu penggolongan yang dibuat dengan suatu tujuan tertentu, atau untuk tujuan praktis dalam hidup sehari-hari. Dan penggolongan diagnostic adalah penggolongan yang masih bersifat meraba-raba, penggolongan ini tidak sepenuhnya berdasarkan kodrati juga tidak berdasar pada penggolongan buatan sepenuhnya.
BAB V
TENTANG PREDICABLE
Predicable ini adalah jenis-jenis predikat yang diketemukan oleh Aristoteles. Menurut Aristoteles ada empat yaitu :
1.      Genus dan Species
2.      Differentia
3.      Proprium
4.      Accident
Genus dan Species adalah dua kelompok yang berhubungan, genus adalah kelomok yang lebih besar yang tersusun oleh species yaitu kelompok yang lebih kecil. Genus yan tertinggi disebut summum genus, genus yang terdekat dari suatu species disebut proximum genus. Semua kelompok yang ada antara summum genus dan infima species disebut subaltern genera.
Differentia atau ciri pembeda, adalah ciri yang membedakan suatu species dengan species lainya dalam suatu genus. Proprium bukan merupakan cirri daripada sesuatu term yang didefinisikan tetapi merupakan akibat daripada sifat atau cirri yang dimilikinya. Dan accident adalah atribut tambahan yang tidak termasuk cirri pembeda atau sifat atau akibat daripada sifat yang dimiliki, tetapi hanya tambahan yang tidak menyebabkan perbedaan pokok.
Pengertian konotasi dan denotasi, konotasi objektif dan denotasi adalah dua istilah yang harus dimengerti bersama-sama, konotasi adalah menunjuk  sifat-sifat daripada term. Sedangkan denotasi adalah menunjuk pada cakupan daripada term itu. Konotasi dibedakan menjadi tiga yaitu :
1.      Konotasi sejati, yaitu searti dengan definisi
2.      Konotasi subjektif, adalah arti yang kita berikan kepada sebuah term berdasarkan tafsiran kita sendiri.
3.      Konotasi objektif, adalah sifat atau cirri dari sebuah term dari banyaknya                                      tidak  terbatas.              

BAB VI
TERM-TERM DALAM LOGIKA

Yang dimaksud term adalah kata atau beberapa kata yang mempunyai satu pengertian, didalam proposisi mempunyai kedudukan sebagai subjek atau predikat. Pengertian kata adalah bunyi atau kesatuan bunyi yang mempunyai arti tertentu, kata ada yang kategorimatis dan ada yang sinkategorimatis.
Kata yang kategorimatis adalah sebuah kata yang dapat menjadi term tanpa bantuan kata-kata lain. Sedangkan kata yang sinkategorimatis adalah kata yang tidak dapat menjadi term tanpa bantuan kata-kata lain. Jenis-jenis term yang lazim kita jumpai diantaranya :

1.      Term konkrit, adalah kata atau kata-kata yang menunjuk kepada suatu benda atau hal lain yang berada dalam ruang dan waktu.
2.      Term abstrak, adalah term yang menunjuk pada sifat atau kumpulan sifat dan juga hubungan.
3.      Term umum, yaitu term yang menunjukan pada suatu himpunan apapun
4.      Term kolektif, yaitu term yang digunakan untuk menunjuk kelompok benda atau orang yang dianggap sebagai satu kesatuan.
5.      Term tunggal, yaitu term yang hanya menunjuk sebuah benda saja atau seorang saja atau himpunan yang hannya beranggota satu.
6.      Term relatif, adalah term yang tidak dapat difahami bila tidak disertakan hubungannya dengan benda atau hal yang lain.
7.      Term absolute, adalah term yang dapat difahami dengan sendirinya tanpa mencari hubungannya dengan benda atau hal yang lain.

BAB VII
DEFINISI
Definisi adalah penjelasan yang tepat tentang sesuatu term, tepat artinya tidak lebih dan tidak kurang. Term yang diberi penjelasan disebut definiendum, kalimat yang penjelasanya definiendum disebut definiens.
A.  Peraturan membuat Definisi
Peraturan definisi diantaranya :
a.       Definisi harus dapat dibolak-balik
b.      Definisi tidak boleh negative
c.       Definiendum tidak boleh masuk dalam definiens
d.      Sebuah definisi harus menyatakan ciri-ciri hakiki dari definiendumnya.
e.       Definisi janganlah dibuat dengan bahasa yang kabur atau kiasan.
B.  Jenis-Jenis Definisi
Jenis-jenis definisi diantaranya :
a.       Definisi Nominal, yaitu definisi yang bermaksud menjelaskan arti istilah saja. Definisi ini disebut definisi sinonim.
b.      Definisi Denotatif, adalah definisi yang menunjuk contoh individual.
c.       Definisi Konotatif, yaitu definisi yang menjelaskan cukup lengkap kepada definiendum karena telah menunjukan cirri pembeda dari genus yang terdekat.
d.      Definisi Operationil, definisi yang menerangkan langkah-langkah kegiatan yang terjadi pada definiendum.
e.       Definisi Causal, yaitu definisi yang menjelaskann dengan cara menceriterakan asal-usul terjadinya hal yang didefinisikan.

BAB VIII
PROPOSISI
Proposisi adalah pernyataan atau kalimat dalam logika. Proposisi yang lengkap terdiri dari atas bagian sbb :
a)      Pembilang (quantifier)
b)      Subyek (pokok kaliamat)
c)      Kopula (penghubung)
d)     Predikat (sebutan)
A.    Jenis-Jenis Proposisi

1.      Proposisi tunggal (atomatic)
2.      Proposisi majemuk (Moleculair)
3.      Proposisi kategoris
4.      Proposisi affirmative (positif)
5.      Proposisi negative
6.      Proposisi disjunctive
7.      Proposisi conditional
8.      Proposisi a posteriori
9.      Proposisi analitik
10.  Proposisi apriori
11.  Proposisi conjunctif
12.  Proposisi universal
13.  Proposisi particular
14.  Proposisi assertoric
15.  Proposisi problematic
16.  Proposisi necessary
17.  Proposisi relasi
18.  Proposisi exclusive
19.  Proposisi exceptive

B.     Penyederhanaan Proposisi
Untuk menyederhanakan proposisi ini yaitu dengan cara menggabungkan proposisi. Terdapat empat buah proposisi kategoris yang dapat kita gabungkan menjadi empat proposisi baru diantaranya :

a.       Proposisi Universil
b.      Proposisi Particular
c.       Proposisi Affirmative
d.      Proposisi Negatif

Setelah keempat proposisi itu digabungkan maka terdapat :
1.      Proposisi universil affirmative, dengan lambang A
2.      Proposisi universil negative, dengan lambang E
3.      Proposisi particular affirmative, dengan lambang I
4.      Proposisi particular negative, dengan lambang O
C.    Distribusi Term
Distribusi term ini ada yang menterjemahkan dengan penyebaran term, adapula yang menterjemahkan penunjukan term. Maksud distribusi term adalah demikian, bahwa ternyata term-term dalam proposisi A,E,I,O terdapat perbedaan luas cakupan. Ada term yang menunjuk keseluruhan term (distributed) atau tersebar, dan term yang tidak mencangkup keseluruhan (undistributed).
D.    Bujur Sangkar Pertentangan
Pada proposisi yang mempunyai subjek dan predikat yang sama tetapi mempunyai kualitas dan kuantitas yang tidak sama, terjadilah pertentangan dalam proposisi, pertentangan tersebut dapat digambarkan seperti di bawah ini :
                    A                                                         E







                    I                                                           O
Dalam gambar dapat kita lihat adanya empat bentuk pertentangan diantaranya:
1.      Subalternasi (A-I) & (E-O)
2.      Kontrari (A-E)
3.      Sub-Kontrari (I-O)
4.      Kontradiktori (A-O) & (E-I)
E.     Perubahan Bentuk Kalimat menjadi Proposisi
Jika kita hendak memasukan pikiran kita sebagai proposisi harus kita menyesuaikan dengan bentuk-bentuk A,E,I,O. Dalam hal ini harus diingat bahwa tidak terjadi perubahan arti, tetapi hanya perubahan bentuk. Caranya yaitu dicari subjeknya, predikatnya dan kopulanya serta pembilangnya kemudian disusun berdasarkan urutan sbb : Pembilang, Subyek, Kopula, Predikat. 

BAB IX
SILOGISME
Silogisme adalah cara penarikan kesimpulan dari dua proposisi. Dua proposisi itu disebut premis-premis, dan kesimpulannya disebut konklusi. Predikat daripada konklusi disebut term mayor, premis yang mengandung term minor disebut premis minor.
A.    Aturan Silogisme
1.      Tiap-tiap silogisme hanya ada tiga term yaitu term mayor, term minor dan term menengah.
2.      Term menengah harus tersebar dalam premis.
3.      Bila sebuah term distributed dalam konklusi maka harus distributed di dalam premis.
4.      Biola dua premisnya affirmative maka konklusinya affirmative.
5.      Bila salah sebuah premisnya negative maka konklusinya mesti negative.
6.      Bila kedua premisnya negative konklusinya tidak bisa ditarik.
Pola silogisme ditentukan oleh term menengah dalam premis-premis. Sedangkan mood sylogisme, premis-premis dari silogisme dan kesimulannya dapat disusun berpasangan sesuai dengan empat jenis proposisi A,E,I,O.
B.     Jenis-Jenis Silogsme
Jenis-jenis silogisme diantaranya :
Sylogisme Kategoris adalah sylogisme yang terdiri dari tiga proposisi kategoris, yaitu dua buah premis dan sebuh konklusi. Sylogisme Kategoris adalah yang bersyarat yaitu premis mayornya suatu proposisi hiphotesis conditional, hiphotesis disjunctive atau hiphotesis conjunctif. Dan Sylogisme Campuran adalah premis minornya mengingkari atau membenarkan salah satu alternative, maka kesimpulanya adalah proposisi  kategoris.
C.    Sylogisme yang Kompleks
Sorites, adalah susunan pikir berantai (polysilogisme), silogisme ini terdiri dari banyak proposisi atau lebih dari tiga. Dilemma (perbincangan serba salah), sejenis silogisme yang premisnya yang pertama berupa gabungan dua proposisi kondisional, sedang premis yang kedua proposisi disjunctive.
BAB X
MENARIK KESIMPULAN SECARA LANGSUNG
Penarikan kesimpulan secara langsung adalah cara menarik kesimpulan hanya dari satu premis. Penarikan konklusi secara ini ada beberapa macam, yaitu sbb :
A.  Conversi
Converse adalah sejenis penarikan konklusi secara langsung, dalam hal ini terjadi perubaha letak subjek dan predikat, tetapi tidak ada perubahan arti, kwalitas maupun kwantitas.
B.  Obversi
Adalah jenis penarikan konklusi secara langsung, dalam hal ini terjadi perubahan kwalitas proposisi, sedang arti tetap sama.
C.  Kontraposisi
Jenis penarikan kesimpulan, dengan jalan memutar kedudukan subjek menjadi predikat dan sebaliknnya, kemudian subjek dan predikat itu dibuat menjadi lawanya. Kontraposisi adalah penarikan konklusi secara obversi dan kemudian konversi. Kontraposisi masih dibedakan menjadi full contraposisi dan partial contraposisi.
1)      Full contraposisi (kontraposisi penuh), adalah pemutar balikan proposisi sehingga menghasilkan proposisi baru yang predikatnya menjadi subjek premisnya.
2)      Partial contraposisi (kontraposisi sebagian), pemutar balikan suatu proposisi sehingga menghasilkan proposisi baru yang predikatnya sama seperti subjek premisnya.
Prinsif yang berlaku dalam menarik kesimpulan dengan kontraposisi adalah sbb :
1.      Subjek konklusi adalah kontraditoris dari predikat yang dimiliki.
2.      Predikat konklusi adalah subjek proposisi yang diberikan.
3.      Kwalitasnya berubah.
4.      Tak ada term distributed dalam konklusi jika undistributed dala premisnya.
5.      Kwantitas konklusi sama dengan kwantitas premis.
D.  Inversi
Inverse adalah jenis penarikan konklusi secara langsung, dalam hal ini subjek konklusi adalah kontradiktori dari subjek premis yang diberikan.

E.  Menarik kesimpulan secara langsung dengan Oposisi
Oposisi adalah menyatakan hubungan tertentu antara proposisi A,E,I,O. tetapi oposisi juga dapat digunakan untuk menarik kesimpulan secara lengsung, dalam hubugannya dengan proposisi A,E,I,O. tersebut.
a.       Oposisi Subalternasi, hubungan antara proposisi-proposisi (A-I) & (E-O) dengan subyek dan predikat sama.
b.      Oposisi Kontrari, hubungan antara proposisi A-E dengan subyek dan predikat sama.
c.       Oposisi Sub-kontrari, hubungan dua proposisi khusus yang subyek dan predikatnya sama tetapi kwalitasnya berbeda (I dan O)
d.      Oposisi Kontradiktori, hubungan antara proposisi (A-O) & (I-E) dengan subyek dan predikat yang sama.

BAB XI
LOGIKA MATERIIL
A.  Pengertian Logika Materiil
Untuk memeriksa kebenaran isi premis itu dipelajari dalam logika materiil. Didalam logika materiil diperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan usaha mencari kebenaran. Bagaimana manusia bisa memperoleh kebenaran. Kebenaran itu ada dan kita dapat mengenal arti kebenaran, kita dapat berfikir benar, sekalipun terdapat macam-macam jalan. Dan pada akhirnya akan menemukan juga kepastian dan evidensi (cocok dengan kenyataan).
B.  Kebenaran dan Mengenal
Mengenal, menurut Aristoteles pengertian kita adalah gambaran benda-benda dialam sekitar kita ini dalam kesadaran kita. Tetapi menurut Imanuel Kant, apabila kita mengenal sesuatu objek itu tidak berarti kesadaran kita mengenal gambaran obyek itu, tetapi kesadaran kita yang memberi bentuk kepada obyek itu. Ternyata proses pengenalan atau penangkapan obyek itu bertingkat-tingkat yakni sbb :
1.         Keadaan tidak tahu sama sekali, dalam tingkat ini tidak dikenal adanya obyek, obyek tidak disadari dan kebenaran obyek tidak ada.
2.         Kebimbangan, obyek menampakan  diri tetapi kesadaran tidak dapat menerimanya, maka kesadaran harus memberi bentuk pada obyek itu.
3.         Mengira-ngira, setelah kesadaran dapat menangkap obyek itu tidak segera diakui sebagai kebenaran tetapi masih diteliti kembali apakah sudah sesuai antara bentuk yang diberikan dengan gambaran obyek yang diterima kesadaran.
4.         Pendapat, setelah ada kesesuaian antara obyek dan kesadaran maka ada pendapat tentang obyek itu, kesadaran bisa memberi nama atau menjelaskan sifat-sifat dari obyeknya.
5.         Keyakinan, pendapat yang sudah dikoreksi dan dikuatkan maka menjadi keyakinan.
6.      Kepastian, dari tingkat keyakinan perlu diuji lagi dengan hal-hal yang lebih luas sehingga diperoleh kepastian dari kebenaran obyek itu.
C.  Beberapa Aliran yang berhubungan dengan Pengenalan Kebenaran
Beberapa aliran filsafat yang cukup berpengaruh diantaranya :
1.      Rationalisme
Meletakan dasar pengenalan pada akal.
2.      Impirisme
Menyatakan bahwa kita memperoleh pengetahuan atau mengenal kenyataan ini melalui kenyataan pancaindera.
3.      Realisme
Dalam liran realism ada yang disebut realism naïf, yaitu realisme yang kekanak-kanakan.
4.      Skeptisme
Kaum skeptis berpendapat bahwa kita dapat mengenal kebenaran suatu obyek, namun kita hanya dapat menangkap data saja, dengan kata lain kita tidak dapat mengetahui bahwa kita mempunyai suatu pengetahuan. Skeptic adalah akibat dari kekacauan jiwa. Maka terdapat beberapa bentuk dari skeptisme yaitu :
Agnotiscasme, adalah bentuk skepisme yang menyatakan bahwa akal kita tidak dapat menerobos ke hal-hal yang diluar daerah pengalaman manusia. Kebenaran dan kepastian itu tercapai apabila pengertian dalam akal kita sesuai dengan obyeknya. Perlu kita ketahui bahwa kebenaran itu ada dua macam, yaitu :
1.      Kebenaran Ontologis
2.      Kebenaran Logis
Kebenaran ontologis, adalah kebenaran daripada kenyataan benda-benda itu sendiri. Setiap benda mempunyai sifat-sifat dan bentuknya masing-masing yang menjadikan hakikat dirinya.
Kebenaran logis, adalah adanya kesesuaian antara kesadaran atau pikiran dengan kebenaran ontologism benda-benda itu.
Dengan panca indera kita dapat menyaksikan kebenaran-kebenaran dalam benda (ontologism) yang kemudian disampaikan kepada akal dan dijadikan kebenaran logis. Maka kita memperoleh pengetahuan yang berdasarkan kebenaran, suatu kepastian atau kebenaran pasti.
D.  Norma-norma Kebenaran
Pendapat yang dikatakan benar perlu diukur lagi, ada beberapa cara untuk mendapatkan kebenaran yakni :
a)      Kita telah diberi tahu oleh seseorang lain yang kita anggap mengerti tentang kebenaran sesuatu.
b)      Kita dapat menyaksikan sendiri kebenaran itu dengan mengadakan penelitian atau percobaan.
Berdasarkan coraknya kepastian dapat dibedakan menjadi tiga :
1.      Kepastian Methapisis, kepastian ini adalah berdasar pada halnya apabila dibalik terjadi kemustahilan.
2.      Kepastian fisis, kepastian ini diperoleh dari pengalaman, kebalikan dari hal ini adalah salah tetapi tidak mustahil.
3.      kepastian moril, adalah yang diperoleh dari dalil psycologi atau kesusilaan.
E.  Induksi dan Deduksi
Metode induksi sangat berguna untuk mendapatkan pengetahuan baru, dengan berbagai percobaan yang berulang-ulang kita akan mendapatkan suatu kesimpulan, kesimpulan ini adalah tambahan pengetahuan baru. Pengetahuan-pengetahuan ini dapat kita gunakan sebagai premis-premis kemudian bisa ditarik dan diperoleh kesimpulan baru. Menarik kesimpulan dari premis-premis itu adalah cara deduksi atau metode deduktif. Jadi didalam fikiran kita pengetahuan-pengetahuan itu tidak kita olah dengan satu cara saja tetapi ada kerja sama antara metode induksi dan metode deduksi, ada kerja sama antara pancaindera yang menangkap pengalaman dan akal fikiran yang mengolah pengalaman itu menjadi pengetahuan.

BAB XII
KESALAHAN BERFIKIR
Sebab-sebab kesalahan atau kesesatan berfikir itu bermacam macam, diantaranya yaitu :
a.       Karena tidak menguasai teknik berfikir (logika)
b.      Karena kurang sungguh-sungguh dalam menggunakan akal kecerdasan, kurang cermat mengadakan penelitian.
c.       Karena kurang menguasai pengetahuan yang berhubungan dengan fakta-fakta, akibat dari pendidikan terlalu sedikit.
d.      Karena kurang menguasi bahasa dan penggunaanya.
e.       karean kesengajaan untuk menyesatkan orang agar menurut kehendaknya.
Untuk menghindari kesalah berfikir harus mempunyai kemauan baik untuk berfikir lurus dan memperhatikan kaidah-kaidah berfikir serta hal-hal yang berhubungan dengan pengetahuan obyek yang difikirkan atau materinya.
Kesalahan berfikir itu dapat digolong-golongkan sbb :
1.      kesalahan formil (Logical fallacies)
Kesalahan dalam pembagiannya :
a.       pembagian terlalu sempit atau terlalu luas
b.      pembagian saling meliputi
c.       pembagian bersilang
Kesalahan penarikan kesimpulan :
a.       fallacy of four term
b.      fallacy of undistributed midlle
c.       fallacy of illick process
d.      the fallacy of negative premis
e.       konklusi affirmative yang ditarik dan premis negative
f.       konklusi negative yang berasal dari dua premis affirmative
g.      konklusi dari dua premis khusus
h.      fallacy of denying antecedent
i.        fallacy of affirming the consequent
kesalahan pada pengumpulan langsung  converse yang salah
kesalahan berfikir yang terjadi karena pemutaran proposisi tanpa emmperhatikabn aturan sehingga memutar proposisi begitu saja akibatnyqa subjek menjadi predikat dan predikat menjadi subyek.
2.      kesalahan penggunaan Bahasa (Verbal fallacies)
a.       kesalahan Ekwivokasi, kesalahan berfikir karena menggunakan sebuah kata atau kata-kata yang punya beberapa arti.
b.      Kesalahan Amfiboli, kesalahan berfikir karena susunan kalimat yang dapat ditafsirkan berbeda-beda sehingga menimbulkan salah pengertian.
c.       Kesalahan Komposisi, kesalahan berfikir yang terjadi Karena beranggapan bahwa hal-hal yang benar pada keseluruhan juga benar pada bagian-bagiannya.
d.      Kesalahan Tekanan, kesalahan berfikir karena kesalahan tekanan dalam mengucapkan kalimat.
3.      kesalahan materil (Material fallacies)
1.      fallacy of arguing beside the point
2.      fallacy of false analogy
3.      fallacy of argumentative leap
4.      fallacy of hasty generalization
5.      fallcy of neglected aspect
6.      fallacy of wishful thinking
7.      fallacy of many questions
8.      kesalahan tentang hal-hal yang tidak relevant :
a.       Argumentum ad populum
b.      Argumentum ad misericordiam
c.       Argumentum ad verecundiam
d.      Argumentum ad ignoratiam
e.       Argumentum ad baculum
9.      fallacy of post hoc

KOMENTAR

Pendapat yang akan saya kemukakan mengenai semua pembahasan tentang ilmu pengetahuan logika ini, tidaklah begitu banyak dan mendalam, hanya sedikit menyinggung sekilas penjelasannya yang mungkin kurang melengkapi untuk lebih mudah dipahami sesuai dengan kemampuan subyek yang membacanya dari sebagian beberapa bab yang ada. Akan tetapi menurut persfektif saya pribadi, isi dari bahasan-bahasan yang ada sekaligus dibarengi dengan contoh-contohnya tentang logika ini, cukup baik dan membantu bahkan dapat menambahnya wawasan saya sebagai mahasiswa Akidah Filsafat.
Namun, yang disayangkan isinya itu terlalu singkat dan kurang lengkap serta kurang memahami secara jelas istilah-istilah ilmiyahnya itu, sehingga terdengar asing dan kurang dimengerti, Contoh dominan yang mungkin paling kurang dipahami secara jelas ialah tentang mood Sylogisme, bagian dari bab sembilan yakni silogisme, terutama dari segi penjumlahannya atau disebut (mood). Selain itu penggambaran dari contoh tentang proposisi yakni distributed & undistributed dan bujur sangkar pertentangan, disana hanya sepintas serta kurang penjelasanya yang mungkin harus lebih rinci lagi agar mudah dipahami pembaca, karena takutnya yang dikhawatirkan itu setelah mempelajari logika, yang  mungkin hanya mengandalkan pemikiran sekilas dan sederhana, dapat mengakibatkan kesalahan berfikir atau sesat fikir dalam diri kita, meskipun terlihat sederhana. Karena kesalahan berfikir itu bermacam-macam adanya sesuai dengan penjelasan dari materi yang ada di bagian bab terakhir diantaranya yaitu, karena tidak menguasai teknik berfikir yang baik, oleh orang yang mempelajari logika tersebut, kurang sungguh-sungguh atau kurang cermat, kurang menguasai pengetahuan sesuai dengan fakta yang ada dan kurangnya menguasai bahasa, maka comment saya mengharapkan, pembahasan atau isi dalam ilmu logika ini  harus lebih detail dan lebih lengkap antara bab per-babnya, agara lebih mudah dimengerti khususnya untuk saya sendiri dan umumnya oleh para pembaca yang mempelajarinya.

Terimakasih..

No comments:

Post a Comment