Follow by Email

Wednesday, May 1, 2013

Filsafat Ilmu

RESUME BUKU (MATERI FILSAFAT ILMU)


MAKALAH






Oleh :

Suhendra
                                           
 (14113340023)



Fakultas Addadin/Akidah Filsafat/Smstr III


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGRI (IAIN) SYEKH NURJATI CIREBON

2012
                                                                                                                 






KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, yang telah memberikan kesehatan, rahmat serta hidayah-Nya kepada saya, sehingga Alhamdulillah saya dapat menyeleseikan tugas yang telah diberikan. Tak lupa shalawat serta salam-Nya semoga tetap tercurahlimpahkan kepada junjungan alam, yakni Nabi Muhammad SAW sang pilihan dan sang pemilik ukhuwah islamiyyah.
Petugas membuat ringkasan materi ini bertujuan untuk memenuhi tugas mandiri (UTS) pada Mata Kuliah Filsafat Ilmu.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan resume ini terlihat sederhana, namun dari kesederhanaannya ini mungkin terdapat kelebihan yang dapat diterima.   Oleh karena itu, penulis dengan terbukanya akan menerima kritik dan saran-Nya yang bersifat membangun demi kesempurnaan dalam mengetahui ilmu pengetahuan. Dan petugas berharap resume ini dapat diterima dan dapat  bermanfaat khusus-Nya penulis sendiri dan umum-Nya dari para pembaca sekalian. Terima kasih..








Cirebon, 20 November  2012



                                                                                         Penulis,





BAB I

PENDAHULUAN

A.    Dari Epistemologi ke Filsafat Ilmu


Baik epistemology maupun filsafat Ilmu sama-sama merupakan cabang dari filsafat yang secara khusus membahas proses keilmuan manusia. Keduanya memilki lebih banyak persamaan daripada perbedaan. Perbedaan itu hanyalah terletak pada objek materialnya, yakni dalam hal ini, epistemology menjadikan ‘pengetahuan‘ sebagai objek kajiannya, sedang filsafat ilmu, objek kajiannya adalah ilmu pengetahuan.  Dan bisa dikatakan bahwa filsafat ilmu merupakan perkembangan lebih jauh dari epistemology, atau bisa juga dikatakan bahwa epistemology sebenarnya telah memperoleh maknanya yang baru, sekaligus memiliki maknanya yang luas sampai pada garapan filsafat ilmu.

B.    Antara Filsafat Ilmu & Sejarah Ilmu

Filsafat ilmu itu sama dengan sejarah ilmu, atau paling tidak keduanya adalah identik. Harus diakui bahwa keduanya memiliki keterkaitan, bahkan perkembangan terakhir filsafat ilmu banyak memperoleh masukan dari temuan-temuan sejarah ilmu, namun jelas keduanya tidak sama dan harus dibedakan. Dan sumbangan terpenting dari sejarah ilmu terhadap kajian dan bangunan filsafat ilmu adalah bahwa “Tidak satupun ilmu lahir dari suatu keadaan yang vacum historis”. Artinya sebuah pemikiran, konsep dan teori pasti memiliki akar sejarah karena ia lahir melalui proses sejarah.

C.    Antara Filsafat Ilmu & Sosiologi Ilmu

Sosiologi ilmu (bukan ilmu sosiologi), adalah sebuh disiplin yang secara teoritis berusaha menganalisa kaitannya antara pengetahuan dengan kehidupan dan secara metodologis berupaya menelusuri bentuk-bentuk yang diambil oleh kaitan itu dalam perkembangan intelektual manusia. Disiplin ini dirintis oleh Max Scheler dan kemudian diperkokoh oleh Karl Mannheim.
Dalam pandangan sosiologi ilmu, pengetahuan tidak pernah lepas dari subjektifitas individu yang mengetahui. Latar belakang social dan psikologis individu akan senantiasa mempengaruhi proses terjadinya pengetahuan. Relasi antara pengetahuan dan eksistensi manusia adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dihindari. Dengan demikian sosiologi ilmu memberikan informasi yang cukup tentang adanya keterkaitan antara proses keilmuan tertentu dengan factor-faktor lain diluar keilmuan, misalnya ideology, tradisi keagamaan, otoritas politik, ekonomi, dll. Dari sinilah terlihat kaitan antara filsafat ilmu dengan sosiologi ilmu.

D.    Problematika Filsafat Ilmu

1.    Mempelajari Struktur Fundamental suatu ilmu
Struktur fundamental suatu ilmu adalah hakikat ilmu itu sendiri. Melihat ilmu dari aspek ini merupakan sumbangan dari epistemology in the old fashion yakni lebih menitikberatkan pada persfektif apa (objek formal) yang digunakan suatu ilmu dalam memahami objek kajianya. Selanjutnya dalam pengembangan keilmuan, struktur fundamental juga bisa difahami sebagai kerangka paradigma keilmuan, yang dengannnya bisa dilihat konsistensi kerja konsep-konsep atau teori-teori keilmuan. Paradigma dan teori keilmuan adalah dua hal yang mendasari (dalam arti filosofis), mengarakan dan menjadi batu ujian atas konsistensi suatu proses keilmuan.
2.    Mempelajari Struktur Logis suatu Ilmu
Struktur logis suatu ilmu, berhubungan dengan pandangan dunianya. Ini artinya terkait dengan logika ‘apa’ yang ‘bermain’ dibelakang suatu ilmu tertentu dan karenanya bisa dilihat ‘apa’ konsekuensi sosiologis yang ditimbulkanya. Sebagai contoh josep an Ess, menulis artikel dengan judul : “The Logical Structure of Islamic Theology” (Struktur Logika Teologi Islam). Ini artinya ilmu kalam memilki struktur logika sendiri, dan sudah tentu disiplin ilmu yang lain juga memilki struktur logikanya masing-masing. Dengan melihat struktur logis suatu ilmu, pada suatu sisi, akan bisa difahami tipe-tipe argument yang digunakan, sekaligus sebagai landasan filosofis logis dalam membuat argument ilmiah, pada sisi yang lain.


E.    Ruang Lingkup Filsafat Ilmu

Sebagaimana diungkapkan sebelumnya, filsafat ilmu dapat difahami dari dua sisi, yaitu sebagai disiplin ilmu dan sebagai landasan filosofis ilmu pengetahuan.
Dalam ruang lingkup filsafat  Ilmu, dapat dibagi dalam dua sisi itu yakni diantaranya :
1.    Sebagai Disiplin Ilmu,  filsafat ilmu merupakan cabang dari ilmu filsafat, dengan demikian juga merupakan disiplin filsafat khusus yang mempelajari bidang khusus, yaitu ilmu pengetahuan. Maka mempelajari filsafat ilmu berarti mempelajari secara filosofis berbagai hal yang terkait dengan ilmu pengetahuan. Disini filsafat ilmu dilihat secara teoritis, yang dimaksudkan untuk menjelaskan tentang ontologis, epistemology, dan aksiologi ilmu pengetahuan. Persoalan pertama ontology ilmu adalah apa bangunan dasar  fundamental struktur sehinggga sesuatu itu disebut ilmu atau kapan sesuatu itu disebut ilmiah. Sedang dalam epistemology ilmu, persoalan utamanya adalah tentang ‘logika apa’ atau struktur logis yang bagaimana yang dipakai dalam membangaun  ilmu. Sementara dalam aksiologi ilmu, ilmu dilihat dari sudut  “peran dan tanggung jawabnya” terhadap masyarakat dan sejarah, maka perhatian terhadap sosiologi dan sejarah ilmu menjadi pembahasan utama.
2.    Sebagai Landasan Filosofis bagi Ilmu Pengatahuan.  Disini jelas filsafat ilmu lebih dilihat dalam hal fungsinya, bahkan aflikasinya dalam kegiatan keilmuan. Sebagai landasan filosofis bagi tegaknya suatu ilmu, maka mustahil para ilmuan menafikan peran filsafat ilmu dalam setiap kegiatan keilmuan. Dalam pandangan filsafat ilmu, proses dan hasil keilmuan pada jenis apapun, sangat ditentukan oleh landasan filosofis yang mendasarinya, yang memang berfungsi memberikan kerangkanya, mengarahkan, menentukan corak dari keilmuan yang dihasilaknya.



Komentar Saya :

Persoalan tentang Filsafat Ilmu tak henti-hentinnya kita sebagai mahasiswa akidah filsafat khususnya yang mempelajari tentang itu, sungguh menarik sekaligus membingungkan. Mengloah pemikiran dengan secara kritis dan teliti. Namun perlu digaris bawahi tentang permasalahan tersebut, mungkin dari pembahasan materi filsafat ilmu ini, sebelum kaitannya dengan ilmu-ilmu lainya itu, setidaknya harus lebih diperjelas lagi secara detail apa itu filsafat ilmu? guna mempermudah bagi para pembaca yang mempelajarinnya. Namun apalah kata, karena isi materi dalam pembahasan buku filsafat ilmu ini yakni diawali dengan materi-materi yang lebih mendalam, maka mau tidak mau kami pun (mahasiswa) harus mempelajari dan memahaminya dengan baik.
Yang saya kurang pahami tentang kajian ilmu ini, sebenarnya sampai mana si daripada batas permasalahan dalam pembahasan ilmu itu? Yang dimana seolah-olah hadirnya ilmu itu terus digeluti oleh keterkaitan dengan ilmu-ilmu lainya. Dan hubungan filsafat ilmu dengan konteks ilmu-ilmu lainya, seperti sosiologi ilmu, sejarah ilmu dan sebagainya, mana yang lebih awal digunakan dan mana yang lebih dapat difahami. Karena semuanya itu mungkin perlu adanya keseriusan dalam membaca. Dan mungkin juga perlu ada penjelasanya. Saya pun setuju dengan maksud dari struktur fundamentalis ilmu, yang dimana disebutkan bahwa pengertianya ialan hakitat daripada ilmu itu sendiri, karena ilmu itu mutlak dan pembahasan tentang ilmu itu harus secara sistematis dan komprehensif. Dan juga perlu adanya jalan/cabang-cabang dalam mencari hakikat terhadap objek ilmu dari hasil kesimpulanya.



   
BAB II
                                                                                                                                                 STRUKTUR FUNDAMENTAL ILMU PENGETAHUAN

Bangunan Dasar Ilmu Pengetahuan

Buku “What is Science” dari karya Archie J.Bahm ini secara umum membicarakan tentang enam komponen dari rancang bangunan ilmu pengetahuan, artinya dengan enam komponen itu, sesuatu itu disebut “ilmu pengetahuan”, yaitu :
1.    Adanya Masalah (Problem)
2.    Adanya Sikap, dalam arti Sikap Ilmiah             Keingintahuan : - Penelitian/Penyelidikan
                                                                                                      - Membaca Buku
                                                                                                      - Diskusi
                                                                                                      - Eksperimen
                                                                                                      - Dari Internet dll.
                                                                            Spekulasi
                                                                            Kemauan untuk Objektif
                                                                            Kemauan untuk Menagguhkan Penilaian
                                                                            Kesementaraan
3.    Menggunakan metode Ilmiah : - Menyadari akan Masalah
                                                  - Menguji Masalah
                                                  - Mengusulkan Solusi
                                                  - Menguji Usulan/Proposal
                                                  - Memecahkan Masalah
4.     Adanya Aktifitas : - Aspek Individu
 - Aspek Sosial
       5.   Adanya Kesimpulan
       6.   Adanya Pengaruh :         Pengaruh Ilmu Terapan
                                                   Pengaruh Ilmu Sosial


BAB III
                                                                                                                                                              ASUMSI-ASUMSI DASAR PROSES KEILMUAN MANUSIA

Proses keilmuan manusia terjadi karena bertemunya subjek ilmu dengan objek ilmu. Maka suatu ilmu pada dasarnya terdiri dari tiga unsur, subjek, objek dan pertemuan keduanya. Tentang hal ini, ada banyak aliran kefilsafatan yang menyumbangkan pemikirannya. Berikut akan dibahas, secara ringkas, empat aliran kefilsafatan; Rasionalisme, Empirisme, Kritisisme, Intuisionisme. Dua aliran pertama memiliki perbedaan yang cukup ekstrim, yang ketiga adalah aliran yang berupaya mendamaikan kedua aliran sebelumnya. Sedang aliran keempat adalah aliran yang sampai saat ini sedang mencari dukungan epistemologis dan juga metodologis untuk suatu pengetahuan yang bersumber (origin) dari pengalaman (batini).

A. Rasionalisme
Paham rasionalisme biasanya dikaitkan dengan kaum rasionalis abad ke-17 dan ke-18, yaitu Rene Descartes, Spinoza, Leibniz, dan Wolff, meski sebenarnya akar-akarnya dapat ditemukan pada pemikiran para filsuf klasik seperti Plato, Aristoteles, dan lainnya. Paham ini beranggapan, ada prinsip-prinsip dasar dunia tertentu, yang diakui benar oleh rasio manusia. Prinsip-prinsip itu kemudian oleh Descartes, dikenalkan dengan istilah substansi, yang tak lain adalah ide bawaan (innate ideas) yang sudah ada dalam jiwa sebagai kebenaran yang clear and distinct, tidak bisa diragukan lagi. Ada tiga ide bawaan yang diajarkan Descartes, yaitu: (a) Pemikiran, (b) Tuhan sebagai wujud yang sama sekali sempurna, (c) Keluasaan.
Pengakuannya tentang adanya tiga prinsip dasar ini, ketiganya tidak bisa lagi diragukan ‘keberadaan’nya. Seperti halnya Descartes, Spinoza juga menetapkan prinsip dasar yang pasti dan menganggap bahwa setiap langkah dari pencarian kepastian itu merupakan satu-satunya jaminan bagi pengetahuan. Namun berbeda dengan Descartes, Spinoza mengakui hanya ada satu substansi. Meski ia tidak menyebut bahwa substansi itu sebagai Tuhan, tetapi ia mengakui bahwa substansi bersifat ilahi.  Sementara, Leibniz menyebut substansi dengan “monade”, ia adalah di antara tokoh-tokoh rasionalisme yang juga mengakui adanya prinsip-prinsip rasional yang bersifat a priori.  Logika Leibniz dimulai dari suatu prinsip rasional, yaitu ada dasar pikiran yang jika diterapkan dengan tepat akan cukup menentukan struktur realitas yang mendasar. Leibniz mengajarkan bahwa ilmu alam adalah perwujudan dunia yang tampil secara matematis. Dunia yang terlihat dengan nyata ini hanya dapat dikenal melalui penerapan dasar-dasar pertama pemikiran. Tanpa itu orang tidak dapat melakukan penyelidikan ilmiah. Pandangan ini berkaitan dengan dasar epistemologi Leibniz, yakni kebenaran pasti atau kebenaran logis dan kebenaran fakta atau kebenaran pengamalan.
Atas dasar pembedaan jenis kebenaran itu, Leibniz kemudian membedakan dua jenis pengetahuan. Pertama, pengetahuan yang menaruh perhatian pada kebenaran eternal (abadi), dalam hal ini, kebenaran logis. Dan Kedua, pengetahuan yang didasarkan pada observasi atau pengamatan, hasilnya disebut “kebenaran kontingen” atau “kebenaran fakta”.
Rasionalisme juga dapat dilihat daripada C. Wolff. Ia adalah penyadur filsafat Leibniz, Di tangan Wolff inilah pemikiran Leibniz mendapatkan sistematisasinya.  Berdasarkan pada prinsip-prinsip dasar yang ia sebut dengan “premis”, kemudian Wolff membagi lapangan pengetahuan menjadi tiga bidang, yaitu apa yang ia sebut dengan: kosmologi rasional, psikologi rasional, dan teologi rasional.  1. Kosmologi rasional adalah pengetahuan yang berangkat dari premis. 2. Psipologi rasional adalah pengetahuan yang berhubungan dengan jiwa. 3. Teologi rasional. Dalam pengetahuan ini, Wolff mengemukakan prinsip, bahwa Tuhan adalah realitas yang sesungguhnya, yang paling sempurna. Kebenaran-kebenaran yang dikandung oleh kesimpulan-kesimpulan yang dieprolehnya sama banyaknya dengan kebenaran-kebenaran yang dikandung oleh premis-premis yang mengakibatkan kesimpulan tersebut.
Demikianlah rasionalisme menganggap, sumber pengetahuan manusia itu adalah rasio. Rasio itu ada pada subjek. Maka asal pengetahuan harus dicari pada subjek. Rasio itu berpikir. Berpikir inilah yang membentuk pengetahuan. Karena hanya manusia yang berpikirlah yang memiliki pengetahuan. Berdasarkan pengetahuan inilah manusia berbuat dan mementukan tindakannya. Berbeda pengetahuan, maka akan berbeda pula laku-perbuatan dan tindakannya. Tumbuhan dan binatang tidak berpikir, maka mereka tidak berpengetahuan. Laku- perbuatan dan tindakan makhluk-makhluk yang tidak punya rasio, sangat ditentukan oleh naluri, yang dibawanya sejak lahir. Tumbuhan dan binatang memperoleh pengalaman seperti manusia. Namun demikian tidak mungkin mereka membentuk pengetahuan dari pengalamannya. Oleh karenanya pengetahuan hanya dibangun oleh manusia dengan rasionya.

B. Empirisisme
Secara estimologi, istilah empirisisme berasal dari kata Yunani emperia yang berarti pengalaman. Empirisisme memilih pengalaman sebagai sumber utama pengenalan, baik pengalaman lahiriyah maupun pengalaman batiniyah. Aliran ini muncul di Inggris, pada awalnya dipelopori oleh Francis Bacon (1561-1626), kemudian dilanjutkan oleh tokoh-tokoh pasca Descartes, seperti Thomas Hobbes (1588-1679), John Locke (1632-1704), Berkeley (1685-1753), dan yang terpenting adalah David Hume (1711-1776). Thomas Hobbes menganggap bahwa pengalaman inderawi sebagai permulaan segala pengenalan. Pengenalan intelektual tidak lain dari semacam perhitungan (kalkulus), yaitu penggabungan data-data inderawi yang sama, dengan cara yang berlainan. Menurut John Locke, rasio, rasio mula-mula harus dianggap “as a white paper” dan seluruh isinya berasal dari pengalaman. Ada dua pengalaman: lahiriyah (sensation) dan batiniyah (reflexion). Berkeley merancang teori yang dinamakan “immaterialisme”. Bagi Berkeley yang ada hanyalah pengalaman dalam roh saja (ideas). “Esse est perceipi” (being is being perceived), demikian ungkapan Berkeley yang terkenal. Ini artinya dunia materiil sama saja dengan ide-ide yang saya alami. Aliran empirisisme memuncak pada David Hume. Ia menerapkan prinsip empirisisme secara radikal dan konsisten. David Hume berpendapat bahwa seluruh isi pemikiran berasal dari pengalaman, yang ia sebut dengan istilah “persepsi’. Menurut Hume persepsi itu terdiri dari dua macam tingkatan, yaitu kesan-kesan (impresions) dan gagasan (ideas). Kesan adalah persepsi yang masuk melalui akal budi, secara langsung, sifatnya kuat dan hidup. Sedangkan gagasan adalah persepsi yang berisi gambaran kabur tentang kesan-kesan.
Hume membedakan dua jenis kesan, yaitu sensasi dan refleksi, serta dua jenis gagasan, yaitu memory dan imaginasi. Kesan sensasi muncul dari jiwa yang tidak diketahui sebab musababnya, sedang kesan refleksi diturunkan dari gagasan- gagasan. Memory memiliki posisi yang teratur. Kalau kita mengatakan bahwa seseorang memiliki memory yang baik, ini berarti orang tersebut mampu mengingat kembali berbagai peristiwa sederhana secara teratur. Adapun imajinasi adalah jenis gagasan yang mengkombinasikan ide (gagasan) yang berasal dari kesan-kesan secara asosiasi (dalam arti, mengikuti hukum asosiasi). Menurut Hume, manusia memiliki kecenderungan intern untuk menghubung-hubungkan gagasan-gagasan menurut “keserupaan”, “kedekatan”, atau hubungan “efek”. Tiga hal inilah yang disebut “relasi natural” (di samping ia mengakui ada tujuh relasi filosofis). Dengan dasar epistemologinya ini, Hume menolak konsep substansi, dari kaum rasionalis dan teman sejawatnya, Locke dan Berkeley. Hume berkesimpulan bahwa ide tentang substansi adalah ide kosong. Kausalitas vs Induksi Dalam pandangan Hume, adalah tidak benar jika kita mengatakan adanya hubungan sebab-akibat antara berbagai kejadian, sebagai pertanda adanya suatu bentuk hubungan yang mutlak di dunia, yang disebut hukum kausalitas.

C. Kritisisme
Kritisisme adalah filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dulu menyelidiki kemampuan rasio dan batas-batasnya. Salah satu tokoh penggagasnya ialah Emanuel Kant. Langkah Kant ini dimulai dengan kritik atas rasio murni, lalu kritik atas rasio praktis, dan terakhir adalah kritik atas daya pertimbangan.
1.    Kritik atas Rasio Murni. Dalam kritik ini, antara lain Kant menjelaskan bahwa ciri pengetahuan adalah bersifat umum, mutlak dan memberi pengertian baru. Untuk itu ia terlebih dulu membedakan adanya tiga macam putusan. Pertama, putusan analitis a priori; dimana predikat tidak menambah sesuatu yang baru pada subjek, karena sudah termuat di dalamnya (misalnya, setiap benda menempati ruang). Kedua, putusan sintesis aposteriori, misalnya pernyataan “meja itu bagus”, disini predikat dihubungkan dengan subjek berdasarkan pengalaman indrawi, karena dinyatakan setelah mempunyai pengalaman dengan aneka ragam meja yang pernah diketahui. Ketiga, putusan sintesis a priori: disini dipakai sebagai suatu sumber pengetahuan yang kendati bersifat sintesis, namun bersifat a priori juga. Misalnya, putusan yang berbunyi “segala kejadian mempunyai sebabnya”. Putusan ini berlaku umum dan mutlak (jadi a priori), namun putusan ini juga bersifat sintesis dan aposteriori. Sebab di dalam pengertian “kejadian” belum dengan sendirinya tersirat pengertian “sebab”. Maka di sini baik akal maupun pengalaman indrawi dibutuhkan serentak. Menurut Kant, putusan jenis ketiga inilah syarat dasar bagi apa yang disebut pengetahuan (ilmiah) dipenuhi, yakni bersifat umum dan mutlak serta memberi pengetahuan baru.

2.    Kritik atas Rasio Praktis. Apabila kritik atas rasio murni memberikan penjelasan tentang syarat- syarat umum dan mutlak bagi pengetahuan manusia, maka dalam “kritik atas rasio praktis” yang dipersoalkan adalah syarat-syarat umum dan mutlak bagi perbuatan susila. Hukum susila merupakan tatanan kebebasan, karena hanya dengan mengikuti hukum susila orang menghormati otonomi kepribadian manusia. Kebakaan jiwa merupakan pahala yang niscaya diperoleh bagi perbuatan susila, karena dengan keabadian jiwa bertemulah ‘kewajiban’ dengan kebahagiaan, yang dalam kehidupan di dunia bisa saling bertentangan. Pada gilirannya, keabadian jiwa dapat memperoleh jaminan hanya dengan adanya satu pribadi, yaitu Tuhan. Pemikiran etika ini, menjadikan Kant dikenal sebagai pelopor lahirnya apa yang disebut dengan “argumen moral” tentang adanya Tuhan.


3.    Kritik atas Daya Pertimbangan. Konsekuensi dari “kritik atas rasio murni” dan “kritik atas rasio praktis” menimbulkan adanya dua kawasan tersendiri, yaitu kawasan keperluan mutlak di bidang alam dan kawasan kebebasan di bidang tingkah laku manusia. Kritik atas Daya Pertimbangan (Kritik der Urteilskraft), dimaksudkan oleh Kant, adalah mengerti persesuaian kedua kawasan itu. Hal itu terjadi dengan menggunakan konsep finalitas (tujuan). Finalitas bisa bersifat subjektif dan objektif. Kalau finalitas bersifat subjektif, manusia mengarahkan objek pada diri manusia sendiri. Inilah yang terjadi dalam pengalaman estetis (kesenian). Dengan finalitas yang bersifat obyektif dimaksudkan adanya keselarasan satu sama lain dari benda-benda alam.

D. Intuisionisme
 Aliran intuisionisme ini dipelopori oleh Henry Bergson (1859-1941). Menurutnya, intuisi merupakan suatu sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Unsur utama bagi pengetahuan adalah kemungkinan adanya suatu bentuk penghayatan langsung (intuitif), di samping pengalaman oleh indera. Setidaknya, dalam beberapa hal intuisionisme tidak mengingkari nilai pengalaman inderawi, kendati diakui bahwa pengetahuan yang sempurna adalah yang diperoleh melalui intuisi. Harold H. Titus memberikan catatan, bahwa intuisi adalah suatu jenis pengetahuan yang lebih tinggi, wataknya berbeda dengan pengetahuan yang diungkapkan oleh indera dan akal, dan bahwa intuisi yang ditemukan orang dalam penjabaran-penjabaran mistik memungkinkan kita untuk mendapatkan pengetahuan langsung yang mengatasi pengetahuan kita yang diperoleh dari indera dan akal.
Secara epistemologis, pengetahuan intuitif berasal dari intuisi yang diperoleh melalui pengamatan langsung, tidak mengenai objek lahir melainkan mengenai kebenaran dan hakikat sesuatu objek. Dalam tradisi Islam, para sufi menyebut pengetahuan ini sebagai rasa yang mendalam (zauq) yang berkaitan dengan persepsi batin. Dengan demikian pengetahun intuitif sejenis pengetahuan yang dikaruniakan Tuhan kepada seseorang dan pada kalbunya sehingga tersingkaplah olehnya sebagian rahasia dan tampak olehnya sebagian realitas.
Henry Bergson (1859-1941), seorang filosof Perancis modern yang beraliran intuisionisme, membagi pengetahuan menjadi dua macam; “pengetahuan mengenai” (knowledge about) dan “pengetahuan tentang” (knowledge of). Pengetahuan pertama disebut dengan pengetahuan diskursif atau simbolis dan pengetahuan kedua disebut dengan pengetahuan langsung atau pengetahuan intuitif karena diperoleh secara langsung. Atas dasar perbedaan ini, Bergson menjelaskan bahwa pengetahuan diskursif diperoleh melalui simbol-simbol yang mencoba menyatakan kepada kita “mengenai” sesuatu dengan jalan berlaku sebagai terjemahan bagi sesuatu itu. Sebaliknya pengetahuan intuitif adalah merupakan pengetahuan yang nisbi ataupun lewat perantara. Ia mengatasi sifat lahiriah pengetahuan simbolis yang pada dasarnya bersifat analitis dan memberikan pengetahuan tentang obyek secara keseluruhan. Maka dari itu menurut Bergson, intuisi adalah sesuatu sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika.  Dari uraian sederhana ini dapat dibuat kesimpulan, bahwa menurut intuisionisme, sumber pengetahuan adalah pengalaman pribadi, dan sarana satu-satunya adalah intuisi.


Komentar Saya :

Menurut saya dari ke empat aliran diatas, yakni rasionalisme, empirisme, kritisisme, dan intuisionisme semuanya itu bisa dikatakan sebuah jalan atau proses guna mencapai suatu kebenaran yang mutlak. Dengan adanya berbagai tokoh-tokoh penggagas yang memiliki teorinya masing-masing. Sesuai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan perputaran zaman. Komentar saya terhadap kaum rasionalisme, disana saya setuju tentang manusia yang berfikir dan memiliki akal dapat mengetahui sesuatu dan mempunyai pengetahuan. Sedangkan hewan maupun tumbuhan hanya memiliki naluri dan tak berakal, karena yang membedakan dari kedua objek tersebut ialah berbuat dan mementukan tindakannya. Meskipun sama dari segi pengalamannya namun dari laku perbuatanya pastilah berbeda, dan semua itu yang menentukan adalah akal/rasio yang dimiliki oleh manusia.
Akan tetapi jika di kaitkan dengan kaum rasionalisme, yang beranggapan bahwasanya akal lebih mendominasi daripada wahyu/agama dan semua kebenaran  bersumber dari pemikiran itu salah. Karena kedudukan akal maupun wahyu itu saling berkaiatan. (jika dikaitkan dengan ilmu kalam). Alasanya karena akal dapat diterima apabila sesuai/tidak bertentangan dengan wahyu yang diturunkan, sedangkan wahyu sendiri dapat dijabarkan oleh akal manusia. Dan yang memberikan akal sendiri yakni yang memiliki wahyunya, yaitu Tuhan.
Dari buku filsafat ilmu yang saya baca, tentang kritisisme tidak ada pengkritikan terhadap pengalaman atau empiris, yang ada hanya kritik terhadap rasio. Maka agar seimbang dan lebih jelasnya, mungkin disana harus ada kritik pula terhadap empirisme. Karena aliran kritisisme yang di gagas oleh Emanuel kant sendiri ialah dengan cara penggabungan antara rasio dan empiric untuk mencari kebenaran yang mutlak. Karena disana seakan kedua belah pihak merasa benar sendiri, sehingga tidak sempat memberi peluang untuk munculnya alternatif ketiga yang barangkali lebih menyejukkan dan konstruktif, maka lahirlah kritisisme itu.


BAB IV
                                                                                                                                                  PARADIGMA ILMU

(Tegaknya Teori-teori Keilmuan)

Secara umum, paradigma diartikan sebagai seperangkat kepercayaan atau keyakinan dasar yang menentukan seseorang dalam bertindak pada kehidupan sehari-hari. Ada yang menyatakan bahwa paradigma merupakan suatu citra yang fundamental dari pokok permasalahan dari suatu ilmu. Paradigma menggariskan apa yang harus dipelajari, pernyataan-pernyataan apa yang seharusnya dikemukakan dan kaidah-kaidah apa yang seharusnya diikuti dalam menafsirkan jawaban yang diperolehnya. Dengan demikian, maka paradigma adalah ibarat sebuah jendela tempat orang mengamati dunia luar, tempat orang bertolak menjelajahi dunia dengan wawasannya (world-view).
Paradigma ilmu pada dasarnya berisi jawaban atas pertanyaan fundamental proses keilmuan manusia, yakni bagaimana, apa, dan untuk apa. Tiga pertanyaan dasar itu kemudian dirumuskan menjadi beberapa dimensi, yaitu: (a). dimensi ontologis, pertanyaan yang harus dijawab oleh seorang ilmuwan adalah: Apa sebenarnya hakikat dari sesuatu yang dapat diketahui (knowable), atau apa sebenarnya hakikat dari suatu realitas (reality). Dengan demikian dimensi yang dipertanyakan adalah hal yang nyata (what is nature of reality?). (b). dimensi epistemologis, pertanyaan yang harus dijawab oleh seorang ilmuwan adalah: Apa sebenarnya hakikat hubungan antara pencari ilmu (inquirer) dan objek yang ditemukan (know atau knowable)? (c) dimensi axiologis, yang dipermasalahkan adalah peran nilai-nilai dalam suatu kegiatan penelitian, (d). dimensi retorik yang dipermasalahkan adalah bahasa yang digunakan dalam penelitian, (e) dimensi metodologis. Seorang ilmuwan harus menjawab pertanyaan: bagaimana cara atau metodologi yang dipakai seseorang dalam menemukan kebenaran suatu ilmu pengetahuan.
Ada empat paradigma ilmu yang dikembangkan oleh para ilmuwan dalam menemukan ilmu pengetahuan yang berkembang dewasa ini. Paradigma ilmu itu adalah: Positivisme, Postpositivisme (keduanya kemudian dikenal sebagai Classical Paradigm atau Conventionalism Paradigm), Critical Theory dan Constructivism (Guba, Egon, 1990:18-27).

A. Positivisme
Positivisme muncul pada abad ke-19 dimotori oleh sosiolog Auguste Comte, dengan buah karyanya yang terdiri dari enam jilid dengan judul The Course of Positive Philosophy (1830-1842). Positivisme merupakan paradigma ilmu pengetahuan yang paling awal muncul dalam dunia ilmu pengetahuan. Keyakinan dasar aliran ini berakar dari paham ontologi realisme yang menyatakan bahwa realitas ada (exist) dalam kenyataan yang berjalan sesuai dengan hukum alam (natural laws).
Menurut Emile Durkheim (1982:59) objek studi sosiologi adalah fakta sosial (social-fact). Fakta sosial yang dimaksud meliputi: bahasa, sistem hukum, sistem politik, pendidikan, dan lain-lain. Sekalipun fakta sosial berasal dari luar kesadaran individu, tetapi dalam penelitian positivisme, informasi kebenaran itu ditanyakan oleh penelitian kepada individu yang dijadikan responden penelitian. Untuk mencapai kebenaran ini, maka seorang pencari kebenaran (penelitian) harus menanyakan langsung kepada objek yang diteliti, dan objek dapat memberikan jawaban langsung kepada penelitian yang bersangkutan.
Di bawah naungan payung positivisme, ditetapkan bahwa objek ilmu pengetahuan maupun pernyataan-pernyataan ilmu pengetahuan (Scientific Proporsition) haruslah memenuhi syarat-syarat (Kerlinger, 1973) sebagai berikut: dapat di/ter-amati (observable), dapat di/ter-ulang (repeatable), dapat di/ter-ukur (measurable), dapat di/ter-uji (testable), dan dapat di/ter-ramalkan (predictable).

B. Postpositivisme
Paradigma ini merupakan aliran yang ingin memperbaiki kelemahan-kelemahan positivisme, yang hanya mengandalkan kemampuan pengamatan langsung terhadap objek yang diteliti. postpositivisme lebih mempercayai proses verifikasi terhadap suatu temuan hasil observasi melalui berbagai macam metode. Dengan demikian suatu ilmu memang betul mencapai objektifitas apabila telah diverifikasi oleh berbagai kalangan dengan berbagai cara.
postpositivisme mengakui bahwa paradigma hanyalah berfungsi sebagai lensa bukan sebagai kacamata. Selanjutnya, relativisme mengungkap bahwa semua pandangan itu benar, sedangkan realis hanya berkepentingan terhadap pandangan yang dianggap terbaik dan benar. Postpositivisme menolak pandangan bahwa masyarakat dapat menentukan banyak hal sebagai hal yang nyata dan benar tentang suatu objek oleh anggotanya.

C. Konstruktivisme
Pada awal perkembangannya, paradigma ini mengembangkan sejumlah indikator sebagai pijakan dalam melaksanakan penelitian dan pengembangan ilmu. Beberapa indikator itu antara lain: (1) penggunaan metode kualitatif dalam proses pengumpulan data dan kegiatan analisis data; (2) mencari relevansi indikator kualitas untuk mencari data-data lapangan; (3) teori-teori yang dikembangkan harus bersifat natural (apa adanya) dalam pengamatan dan menghindarkan diri dengan kegiatan penelitian yang telah diatur dan bersifat serta berorientasi laboratorium; (5) pola-pola yang diteliti dan berisi kategori-kategori jawaban menjadi unit analisis dari variabel-variabel penelitian yang kaku dan steril; (6) penelitian lebih bersifat partisipatif dari pada mengontrol sumber- sumber informasi dan lain-lainnya.
Jika tujuan penemuan ilmu dalam positivisme adalah untuk membuat generalisasi terhadap fenomena alam lainnya, maka konstruktivisme lebih cenderung menciptakan ilmu yang diekspresikan dalam bentuk pola teori, jaringan atau hubungan timbal balik sebagai hipotesis kerja, bersifat sementara, lokal dan spesifik. Dengan pernyataan lain, bahwa realitas itu merupakan konstruksi mental, berdasarkan pengalaman sosial, bersifat lokal dan spesifik dan tergantung pada orang yang melakukannya.

D. Critical Theory
Aliran ini sebenarnya tidak dapat dikatakan sebagai suatu paradigma, tetapi lebih tepat disebut ideologically oriented inquiry, yaitu suatu wacana atau cara pandang terhadap realitas yang mempunyai orientasi idiologis terhadap paham tertentu. Idiologi ini meliputi: Neo-Marxisme, Materialisme, Feminisme, Freireisme, Partisipatory inquiry, dan paham-paham yang setara.
Sedikitnya ada dua konsepsi tentang Critical Theory yang perlu diklarifikasi dalam tulisan ini. Pertama, kritik internal terhadap analisis argumen dan metode yang digunakan dalam berbagai penelitian. Kritik ini difokuskan pada alasan teoritis dan prosedur dalam memilih, mengumpulkan dan menilai data empiris. Dengan demikian aliran ini amat mementingkan alasan, prosedur dan dan bahasa yang digunakan dalam mengungkapkan suatu kebenaran. Kedua, makna critical dalam memformulasikan masalah logika. Logika bukan hanya melibatkan pengaturan formal dan kriteria internal dalam pengamatan tetapi juga melibatkan bentuk- bentuk khusus dalam pemikiran yang difokuskan pada skeptisisme (rasa ingin tahu dan rasa ingin bertanya) terhadap kelembagaan sosial dan konsepsi tentang realitas yang berkaitan dengan ide, pemikiran dan bahasa melalui kondisi sosial historis.

Paling sedikit ada enam tema pokok yang menjadi ciri paradigma Critical Theory dalam praktik keilmuan :
    Problem prosedur, metode dan metodologi keilmuan.
    Perumusan kembali standar dan aturan keilmuan sebagai logika dalam konteks historis.
    Dikotomi antara objek dan subjek.
    Keberpihakan ilmu dalam interaksi sosial.
    Pengembangan ilmu merupakan produksi nilai-nilai.
    Ilmu pengetahuan (khususnya ilmu sosial) merupakan studi tentang masa lalu.


Komentar Saya :

Dari Keempat paradigma yang telah disebutkan diatas, memiliki tampilan yang sangat berbeda. Semuanya memiliki pandangan yang konsisten dalam menentukan kebenaranya. Maka dengan melihat paparan di atas kemudian timbulah pertanyaan, paradigma mana yang paling baik? Tidak ada satupun paradigma yang sanggup mengungguli satu sama lainnya, mengingat paham ini merupakan cara pandang seseorang terhadap suatu realitas yang tergantung pada keadaan tertentu yang harus mereka ambil sebagai jalannya. Dalam bidang-bidang ilmu eksak, seperti matematika, fisika dan lainya, biasanya paham positivisme dan postpositivisme yang mungkin paling banyak digunakan, sedangkan di bidang sosial, critical theory dan construtivism adalah yang mendapat tempat yang mapan.



BAB V 
                                                                                                                                                         KERANGKA DASAR TEORI KEILMUAN

(Suatu Diskudi Metodologi)

A.    Francis Bacon: Metode Induksi-Eksperimen
Menurut Bacon, agar dapat menguasai alam, manusia harus mengenalnya lebih dekat. Langkah untuk itu adalah dengan menggunakan metode induksi berdasarkan eksperimen dan observasi. Metode ini merupakan instrumen yang ia klaim sebagai baru bagi sains dalam menghimpun data-data faktual dalam jumlah besar.

1. Ilmu Teoretis dan Terapan
Diantara jasa Bacon yang memiliki pengaruh besar adalah pemikirannya tentang sistematika ilmu. Pemikirannya itu sebagai konsekuensi dari penglihatannya tentang adanya keterkaitan antara ‘potensi’ manusia dengan objek-objek penyelidikannya. Menurut Bacon, jika manusia mempunyai kemampuan triganda, yaitu ingatan (memoria), khayal (imaginatio), dan akal (ratio). Ketiganya merupakan dasar bagi pengetahuan. Ingatan menyangkut apa yang sudah diperiksa dan diselidiki (historia), daya khayal berkaitan dengan keindahan, misalnya dalam sastra (poesis), dan kerja akal kemudian menghasilkan apa yang disebut ilmu dan filsafat. Mengenai yang terakhir ini, Bacon membagi dalam tiga cabang, yaitu filsafat (dan atau ilmu) tentang ketuhanan, tentang manusia, dan tertentu alam.
Cabang ilmu alam ia bedakan menjadi ilmu teoretis dan terapan. Bidang teoretis sendiri meliputi fisika dan metafisika, sedang bidang ilmu terapan meliputi mekanika dan magika, Bacon tampak masih menggunakan istilah teknis dan Aristoteles. Ini setidaknya terlihat dalam istilah “kausa efesien” dan “kausa materialis” sebagai pembahasan ilmu fisika, yang obyeknya langsung bisa diamati sebagai sebab-sebab fisis, sementara metafisika membahas seputar “kausa formalis” dan “kausa finalis” sebagai hukum yang tetap, yang kemudian dikenal dengan hukum alam yang tidak dapat langsung bisa diamati secara empiris. Bagian kedua dari ilmu alam adalah bidang ilmu terapan, yaitu meliputi ilmu mekanika dan magika. Mekanika sebagai ilmu terapan dari fisika dan magika merupakan terapan dari ilmu metafisika.

2. Menghindari Idola: Induksi ala Bacon
Menurut Bacon, ada dua cara untuk mencari dan menemukan kebenaran dengan induksi ini. Pertama, jika rasio bertitik pangkal pada pengamatan inderawi yang partikular, lalu maju sampai pada ungkapan-ungkapan yang paling umum (yang disebut axiomata) guna menurunkan secara deduktis ungkapan-ungkapan yang kurang umum berdasarkan ungkapan-ungkapan yang paling umum tersebut. Kedua, kalau rasio berpangkal pada pengamatan inderawi yang partikular guna merumuskan ungkapan umum yang terdekat dan masih dalam jangkauan pengamatan itu sendiri, lalu secara bertahap maju kepada ungkapan-ungkapan yang lebih umum.

Agar induksi tidak terjebak pada proses generalisasi yang terburu-buru, menurut Bacon perlu dihindari empat macam idola (godaan) dalam berpikir, yaitu:
1)   Idola tribus (tribus: manusia pada umumnya [awam]), yaitu menarik kesimpulan tanpa dasar secukupnya, berhenti pada sebab-sebab yang diperiksa secara dangkal, tanpa melalui pengamatan dan percobaan yang memadai.
2) Idola specus (specus: gua), yaitu penarikan kesimpulan yang hanya didasarkan pada prasangka, prejudice, selera a priori.
3) Idola fori (forum: pasar), yaitu menarik kesimpulan hanya karena umum berpendapat demikian, atau sekedar mengikuti pendapat umum (opini publik).
4) Idola theatri (theatrum: panggung). Maksudnya menarik kesimpulan dengan bersandarkan pada kepercayaan dogmatis, mitos, kekuatan gaib, dan seterusnya, karena menganggap bahwa kenyataan di dunia ini hanyalah panggung sandiwara, tidak beneran.

B.     John Stuart Mill: Logika Induksi
Mill mengajukan logika induksi, dalam arti sebagai kerangka bagi proses induksi yang terdiri dari metode kesesuaian (method of agreement), ketidaksesuaian (method of difference), dan metode sisa (method of residues). Menurutnya, pemikiran silogistis selalu mencakup suatu lingkaran setan (petitio), di mana kesimpulan sudah terkandung di dalam premis, sedangkan premis itu sendiri akhirnya masih bertumpu juga pada induksi empiris.

Cara kerja induksi menurut Mill sebagai berikut:

1.    Metode kesesuaian (method of agreement): Apabila ada dua macam peristiwa atau lebih pada gejala yang diselidiki dan masing-masing peristiwa itu mempunyai (mengandung, pen.) faktor yang sama, maka faktor (yang sama) itu merupakan satu-satunya sebab bagi gejala yang diselidiki.
2.    Metode perbedaan (method of difference): Apabila sebuah peristiwa mengandung gejala yang diselidiki dan sebuah peristiwa lain yang tidak mengandungnya, namun faktor-faktornya sama kecuali satu, yang mana faktor (yang satu) itu terdapat pada peristiwa pertama, maka itulah satu-satunya faktor yang menyebabkan peristiwa itu berbeda. Karenanya dapat disimpulkan bahwa satu faktor (yang berbeda) itu sebagai suatu sebab terjadinya suatu gejala pembeda (yang diselidiki) tersebut.
3.    Metode persamaan variasi (method of concomitan variation): Metode ini juga dikenal dengan metode perubahan selang-seling seiring. Apabila suatu gejala yang dengan suatu cara mengalami perubahan ketika gejala lain berubah dengan cara tertentu, maka gejala itu adalah sebab atau akibat dari gejala lain, atau berhubungan secara sebab akibat.
4.    Metode menyisakan (method of residues): Jika ada peristiwa dalam keadaan tertentu dan keadaan tertentu ini merupakan akibat dari faktor yang mendahuluinya, maka sisa akibat yang terdapat pada peristiwa itu pasti disebabkan oleh faktor yang lain. Metode menyisakan dapat dipakai dengan pengkajian atas hanya satu kejadian. Jadi, berbeda dengan metode-metode lainnya yang paling sedikit membutuhkan pengkajian atas dua kejadian. Ciri metode menyisakan dapat dikatakan deduktif, karena bertumpu kuat pada hukum-hukum kausal yang sudah terbukti sebelumnya. Namun demikian, kendati terdapat premis-premis yang berupa hukum-hukum kausal, kesimpulan yang dapat dicari melalui metode menyisakan sifatnya hanya probabel, dan tidak dapat dideduksikan secara sah dari premis-premisnya.

C.    Auguste Comte: Data Positif, Empiris
1.    Metodologi Positivisme
Metodologi merupakan isu utama yang dibawa positivisme, yang memang dapat dikatakan bahwa refleksi filsafatnya sangat menitikberatkan pada aspek ini. Metodologi positivisme berkaitan erat dengan pandangannya tentang objek positif. Jika metodologi bisa diartikan suatu cara untuk memperoleh pengetahuan yang sahih tentang kenyataan, maka kenyataan dimaksud adalah objek positif.
Objek positif sebagaimana dimaksud Comte dapat dipahami dengan membuat beberapa distingsi, yaitu: antara ‘yang nyata’ dan ‘yang khayal’; ‘yang pasti’ dan ‘yang meragukan’; ‘yang tepat’ dan ‘yang kabur’; ‘yang berguna’ dan ‘yang sia-sia’; serta ‘yang mengklaim memiliki kesahihan relatif’ dan ‘yang mengklaim memiliki kesahihan mutlak’. Dari beberapa patokan “yang faktual” ini, positivisme meletakkan dasar-dasar ilmu pengetahuan hanya tentang fakta objektif. Jika faktanya adalah “gejala kehidupan material”, ilmu pengetahuannya adalah biologi. Jika fakta itu “benda-benda mati”, ilmu pengetahuannya adalah fisika. Demikian juga banyak bidang kehidupan lain yang dapat menjadi objek observasi empiris yang secara regoruos menjadi ilmu pengetahuan.
Antinomi-antinomi yang dibuat Comte di atas kemudian dapat diterjemahkan ke dalam norma-norma metodologis sebagai berikut: 1. Semua pengetahuan harus terbukti lewat rasa-kepastian (sense of certainty) pengamatan sistematis yang terjamin secara intersubjektif. 2. Kepastian metodis sama pentingnya dengan rasa-kepastian. Kesahihan pengetahuan ilmiah dijamin oleh kesatuan metode. 3. Ketepatan pengetahuan kita dijamin hanya oleh bangunan teori-teori yang secara formal kokoh yang mengikuti deduksi hipotesis-hipotesis yang menyerupai hukum. 4. Pengetahuan ilmiah harus dapat dipergunakan secara teknis. Ilmu pengetahuan memungkinkan kontrol teknis atas proses-proses alam maupun sosial, kekuatan kontrol atas alam dan masyarakat dapat dilipat-gandakan hanya dengan mengakui asas-asas rasionalitas, bukan melalui perluasan buta dari riset empiris, melainkan melalui perkembangan dan penyatuan teori-teori. 5. Pengetahuan kita pada prinsipnya tak pernah selesai dan relatif, sesuai dengan ‘sifat relatif dan semangat positif.

2.    Sosiologi Comte
Berkaitan dengan ilmu-ilmu sosial ini, asumsi-asumsi positivisme tersebut berkonsekuensi tiga hal sebagai berikut: pertama, prosedur-prosedur metodologis ilmu-ilmu alam dapat langsung diterapkan pada ilmu-ilmu sosial. Gejala-gejala subjektivitas manusia, kepentingan maupun kehendak, tidak mengganggu objek observasi, yaitu tindakan sosial.
Dengan cara ini, objek observasi ilmu-ilmu sosial disejajarkan dengan dunia alamiah. Kedua, hasil-hasil riset dapat dirumuskan dalam bentuk ‘hukum-hukum’ seperti dalam ilmu-ilmu alam. Ketiga, ilmu-ilmu sosial itu harus bersifat teknis, yaitu menyediakan pengetahuan yang bersifat instruemntal murni. Pengetahuan itu harus dapat dipakai untuk keperluan apa saja sehingga tidak bersifat etis dan juga tidak terkait pada dimensi politis. Seperti ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu sosial bersifat bebas-nilai (value-free).

D.    Positivisme Logis: Verifikasi
Pandangan yang dikembangkan oleh kelompok ini (wina) disebut neopositivisme, atau sering juga dinamakan positivisme logis. Kaum positivisme logis memusatkan diri pada bahasa dan makna.  Mereka mengklaim bahwa kekacauan kaum idealis dengan berbagai pendekatan metafisika yang digunakan dalam melihat realitas, adalah karena bahasa yang mereka pakai secara esensial tanpa makna. Sebagai penganut positivisme, secara umum mereka berpendapat bahwa sumber pengetahuan adalah pengalaman,  namun secara khusus dan eksplisit pendirian mereka sebagai berikut; (a) mereka menolak perbedaan ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial; (b) menganggap pernyataan-pernyataan yang tak dapat diverifikasi secara empiris, seperti etika, estetika, agama, metafisika, sebagai nonsense; (c) berusaha menyatukan semua ilmu pengetahuan di dalam satu bahasa ilmiah yang universal (Unified Science); (d) memandang tugas filsafat sebagai analisis atas kata-kata atau pernyataan-pernyatan.


1.    Verifikasi dan Konfirmasi
Para filsuf pada ‘kelompok’ Lingkaran Wina pada umumnya mencurahkan perhatiannya untuk mencari garis pemisah antara pernyataan yang bermakna (meaningfull) dan pernyataan yang tidak bermakna (meaningless) berdasarkan kemungkinan untuk diverifikasi. Artinya jika suatu pernyataan dapat diverifikasi, maka ia berarti bermakna, sebaliknya jika tidak dapat diverifikasi berarti tidak bermakna. Prinsip verifikasi ini menyatakan bahwa suatu proposisi adalah bermakna jika ia dapat diuji dengan pengalaman dan dapat diverifikasi dengan pengamatan (observasi). Sebagai akibat dari prinsip ini, filsafat tradisional haruslah ditolak, karena ungkapan-ungkapannya melampaui pengalaman, termasuk dalam teologi dan metafisika pada umumnya.
2.    Eliminasi Metafisika
Seperti diuraikan di muka, bahwa dalam pandangan Lingkaran Wina, pernyataan metafisika, termasuk etika adalah tidak bermakna karena ia menyajikan proposisi yang tidak bisa diverifikasi, atau sebagai proposisi yang “pseudo-statements” menurut Carnap. Menurut Carnap, banyak penentang metafisika sejak dari kaum skeptis masa Yunani hingga empirisis abad ke-19 berpendapat bahwa metafisika adalah salah (false), yang lain lagi menyatakan tidak pasti (uncertain), atas dasar bahwa problem-problemnya mengatasi (transcendent) batas-batas pengetahuan manusia.  Carnap menggunakan logika terapan atau teori pengetahuan melalui cara- cara analisis logis untuk mengklarifikasi muatan kognitif pernyataan-pernyataan ilmiah dan makna dari istilah-istilah yang dipakai dalam pernyataan tersebut sehingga diperoleh hasil positif dan negatif.
3.    Perpaduan Ilmu (Unified Science)
Dengan prinsip verifikasi dan konfirmasi segera bisa dikenal, apakah suatu bahasa itu bermakna. atau tidak; jika bermakna disebut ilmiah, jika tidak bermakna berarti tidak ilmiah. Dengan membuat distingsi ini, problem yang berkaitan dengan pembedaan dua ilmu, yakni ilmu kealaman dan kemanusiaan menjadi tidak menarik, bahkan perbedaan itu sendiri tidak ada. Semua usaha kemudian dicurahkan untuk mewujudkan bahwa pernyataan- pernyataan (bahasa) semua ilmu pengetahuan bisa di “terjemahkan” ke dalam bahasa universal yang sama.
Objek filsafat tradisional seperti ‘Ada yang Absolut’ tidak dapat menjadi wilayah yang digarap oleh pengetahuan kita, karenanya pernyataan-pernyataan yang menyangkut objek-objek yang demikian itu merupakan pernyataan semu. Problem-problem kefilsafatan juga hanya semu belaka, karena tidak didasarkan pada penggunaan bahasa yang bermakna (meaningfull0, tetapi menggunakan bahasa yang penuh emosi dan perasaan (emotional use of language).

E. Karl Popper: Falsifikasi
Dalam kaitannya dengan problem filsafat ilmu, pemikiran Popper, oleh beberapa penulis sering dikelompokkan dalam tiga tema, yaitu persoalan induksi, persoalan demarkasi, dan persoalan dunia ketiga. Ia memang tidak sependapat dengan keyakinan tradisional tentang ‘induksi’, dan menyatakan bahwa tak ada sejumlah contoh-contoh khusus yang menjamin prinsip universal. Demikian juga soal ‘verifikasi’ sebagaimana diyakini Lingkaran Wina. Bagi dia, ‘falsifikasi’ atau juga disebut ‘falsifiabilitas’ adalah batas pemisah (demarkasi) yang tepat, antara ilmu dengan yang bukan-ilmu.
Induksi dan Hipotesa; Bagi para praktisi ilmu, metode indusi sering tidak pernah jadi persoalan, namun bagi pengamat, teoritisi dan filsuf ilmu, induksi selalu menjadi problem. Persoalan yang paling mendasar bagi mereka adalah, bahwa metode induksi yang berangkat dari beberapa kasus partikular kemudian dipakai untuk menciptakan hukum umum dan mutlak perlu (necessary and sufficient cause).
Bagi Popper, suatu teori tidak bersifat ilmiah hanya karena bisa dibuktikan (kebenarannya), melainkan karena dapat diuji (tetable), dalam arti dapat diuji dengan percobaan-percobaan sistematis untuk menyangkalnya. Apabila suatu hipotesa atau suatu teori dapat bertahan melawan segala penyangkalan, maka kebenaran hipotesa atau teori tersebut semakin diperkokoh (corroboration). Makin besar kemungkinan untuk menyangkal suatu teori dan jika teori itu terus bisa bertahan, maka semakin kokoh pula kebenarannya. Menurut Popper, teori-teori ilmiah selalu dan hanyalah bersifat hipotesis (dugaan sementara), tak ada kebenaran terakhir. Setiap teori selalu terbuka untuk digantikan oleh teori yang lebih tepat. Untuk itu Popper lebih suka menggunakan istilah hipotesa, atas dasar kesementaraannya.
Dunia Tiga
Untuk melihat keutuhan pemikiran filsafat ilmu Popper, perlu sedikit diuraikan konsepnya yang lain, yaitu Dunia Tiga. Popper membedakan ‘realitas’ menjadi apa yang ia sebut; Dunia Satu, yakni kenyataan fisis dunia; Dua Dua, yakni segala kejadian dan kenyataan psikis dalam diri manusia; dan Dunia Tiga, yaitu segala hipotesa, hukum, dan teori ciptaan mansuai dan hasil kerja sama antara Dunia Satu dan Dunia Dua seluruh bidang kebudayaan, seni, metafisika, agama, dan lain-lain. Menurut Popper, Dunia Tiga hanya ada selama dihayati, dalam arti bentuk karya dan penelitian ilmiah, dalam studi yang berlangsung, membaca buku, dalam ilham yang sedang mengalir dalam diri para seniman dan penggemar seni yang mengandaikan adanya suatu kerangka. Sesudah penghayatan itu, semuanya langsung “mengendap” dalam bentuk fisik alat-alat ilmiah, buku-buku, karya seni, dan seterusnya. Dengan mengendapnya itu semua, maka mereka telah menjadi bagian dari Dunia Satu, namun bisa bangkit menjadi Dunia Tiga kembali, berkat perhatian Dunia Dua. Dalam pandangan Popper, Dunia Tiga mempunyai kedudukannya sendiri, mempunyai otoritas dan tidak terikat baik pada Dunia Satu maupun pada Dunia Dua.

F.    Thomas S. Kuhn: Revolusi Sains
1.    Paradigma dan Konstruksi Komunitas Ilmiah
Kuhn memakai istilah “paradigma” untuk menggambarkan sistem keyakinan yang mendasari upaya pemecahan teka-teki di dalam ilmu. Dengan memakai istilah “paradigma”, ia bermaksud mengajukan sejumlah contoh yang telah diterima tentang praktek ilmiah nyata, termasuk di dalamnya hukum, teori, aplikasi, dan instrumentasi, yang menyediakan model- model, yang menjadi sumber konsistensi dari tradisi riset ilmiah tertentu. Menurut Kuhn, tradisi-tradisi inilah yang oleh sejarah ditempatkan di dalam rubrik-rubrik seperti “Ptolemaic Astronomy” (atau copernican), “Aristotelian dynamic” (atau Newtonian), “corpuscular optics” (atau wave optics) dan sebagainya.

Menurut Kuhn, paradigma ilmu adalah suatu kerangka teoritis, atau suatu cara memandang dan memahami alam, yang telah digunakan oleh sekelompok ilmuwan sebagai pandangan dunia (world view) nya.
Dengan demikian, paradigma ilmu tidak lebih dari suatu konstruksi segenap komunitas ilmiah, yang dengannya mereka membaca, menafsirkan, mengungkap, dan memahami alam. Berdasarkan bukti-bukti dari sejarah ilmu, Kuhn menyimpulkan bahwa faktor historis yakni faktor non-matematis- positivistik, merupakan faktor penting dalam bangunan paradigma keilmuan secara utuh.

2.    Proses Perkembangan Ilmu
Menurut Kuhn, proses perkembangan ilmu pengetahuan manusia tidak dapat terlepas sama sekali dari apa yang disebut –keadaan- “normal science” dan “revolutionary science”. Semua ilmu pengetahuan yang telah tertulis texbook adalah termasuk dalam wilayah “sains normal” (normal science). Sains normal bermakna penyelidikan yang dibuat oleh suatu komunitas ilmiah dalam usahanya menafsirkan alam ilmiah melalui paradigma ilmiahnya. Sains normal adalah usaha sungguh-sungguh dari ilmuwan untuk menundukkan alam masuk ke dalam kota- kotak konseptual yang disediakan oleh paradigma ilmiah dan, untuk menjelaskan, diumpamakan sains normal itu sebagai dapat menyelesaikan masalah teka-teki.
Semakin banyak lingkungan ilmiah dapat diterangkan oleh suatu komunitas ilmiah semakin besar pula kemajuan yang dicapainya. Begitulah “paradigma” berkaitan erat dengan sains normal. Inilah keadaan yang oleh Kuhn disebut anomolies, keganjilan-keganjilan, ketidaktepatan, ganjalan-ganjalan, penyimpangan-penyimpangan dari yang biasa, suatu keadaan yang sering kali tidak dirasakan bahkan tidak diketahui oleh para pelaksana di lapangan.
Usaha komunitas untuk menyelesaikan krisis adalah proses sains luar biasa. Krisis berlaku setelah lama mengalami sains normal dan merupakan fase yang harus dilalui menuju kemajuan ilmiah. Krisis adalah suatu mekanisme koreksi diri yang memastikan bahwa kekakuan pada fase sains normal tidak akan berkelanjutan. Persoalan yang selalu dicari jawabannya oleh anggota komunitas ilmiah adalah: “mana paradigma yang membolehkan kita menyelesaikan teka-teki dengan berhasil”. Jika anomalies yang kecil-kecil tersebut terakumulasi dan menjadi terasa begitu akut sehingga pada saatnya ditemukan pemecahan yang lebih memuaskan oleh para ilmuwan. Artinya suatu komunitas ilmiah dapat menyelesaikan keadaan krisisnya dengan menyusun diri di sekeliling suatu paradigma baru, maka terjadilah apa yang disebut oleh Kuhn dengan “revolusi sains” (revolutionary science).
Cara kerja paradigma dan terjadinya revolusi ilmiah dapat digambarkan secara umum ke dalam tahap-tahap sebagai berikut: Tahap pertama, paradigma ilmu membimbing dan mengarahkan aktivitas ilmiah dalam masa ilmu normal (normal science). Dalam tahap ini para ilmuwan tidak bersikap kritis terhadap paradigma yang membimbing aktivitas ilmiahnya. Selama menjalankan aktivitas ilmiah itu para ilmuwan menjumpai berbagai fenomena yang tidak dapat diterangkan dengan paradigma yang digunakan sebagai bimbingan atau arahan aktivitas ilmiahnya, inilah yang dinamakan anomali. Anomali adalah suatu keadaan yang memperlihatkan adanya ketidak-cocokan antara kenyataan (fenomena) dengan paradigma yang dipakai.
Tahap kedua, menumpuknya anomali menimbulkan krisis kepercayaan dari para ilmuwan terhadap paradigma. Paradigma mulai diperiksa dan dipertanyakan. Tahap ketiga, para ilmuwan bisa kembali lagi pada cara-cara ilmiah yang lama sembari memperluas dan mengembangkan suatu paradigma tandingan yang dipandang bisa memecahkan masalah dan membimbing aktivitas ilmiah berikutnya. Proses peralihan dari paradigma lama ke paradigma baru inilah yang dinamakan revolusi ilmiah.

G. Imre Lakatos, Metodologi Program Riset
Dalam program riset ini terdapat aturan-aturan metodologis yang disebtu dengan “heuristik”, yaitu kerangka kerja konseptual sebagai konsekuensi dari bahasa. Heuristik itu adalah suatu keharusan untuk melakuakn penemuan- penemuan lewat penalaran induktif dan percobaan-percobaan sekaligus menghindarkan kesalahan dalam memecahkan masalah. Pemahaman terhadap sejarah ilmu pengetahuan adalah sejarah program riset yang lebih dari sekedar teori. Menruut Lakatos, ada tiga elemen yang harus diketahui dalam kaitannya dengan program riset, yaitu: pertama, “inti pokok” (hard-core), dalam hal ini asumsi dasar yang menjadi ciri dari program riset ilmiah yang melandasinya, yang tidak dapat ditolak atau dimodifikasi. “Inti pokok” ini dilindungi dari ancaman falsifikasi.
Kedua, “lingkaran pelindung” (protective-belt) yang terdiri dari hipotesa- hipotesa bantu (auxiliary hypothese) dalam kondisi-kondisi awal. Dalam mengartikulasi hipotesa pendukung, lingkaran pelindung ini harus menahan berbagai serangan, pengujian dan memperoleh penyesuaian, bahkan perubahan dan pergantian, demi mempertahankan hard-core. Dalam aturan metodologis program riset, protective belt ini disebut “heuristik positif”.
Ketiga, serangkaian teori (a series theory), yaitu keterkaitan teori di mana teori yang berikutnya merupakan akibat dari klausul bantu yang ditambahkan dari teori sebelumnya. Keilmiahan sebuah program riset dinilai berdasarkan dua syarat: (1) suatu program riset harus memenuhi derajat koherensi yang mengandung perencanaan yang pasti untuk program riset selanjutnya; (2) suatu program riset harus dapat menghasilkan penemuan fenomena baru. Dengan struktur program riset itu diharapkan dapat menghasilkan perkembangan ilmu yang rasional. Keberhasilan suatu program riset dilihat dari terjadinya perubahan problem yang progresif. Sebaliknya, suatu program riset dikatakan gagal jika hanya menghasilkan problem yang justru merosot atau degeneratif.


Komentar Saya :

Dari apa yang telah dijelaskan para tokoh pemikir di atas maka secara urutnya di antara filsuf yang mempersoalkan ‘proses generalisasi’ dengan cara induksi adalah Francis Bacon, meski kemudian ia mengajukan teori “idola”nya. John S. Mill juga melakukan hal yang sama, konsep yang diajukannya ialah metode kesesuaian, ketidaksesuaian, dan metode residue. Filsuf yang secara radikal menolak proses generalisasi ini adalah David Hume. Sementara Popper sendiri, dalam hal ini setuju dengan Hume, bahwa peralihan dari yang partikular ke yang universal itu secara logis tidak sah.
Kemudian epistemologi positivistik telah mendominasi kajian filsafat ilmu untuk waktu yang cukup panjang, namun sejak paruh kedua abad 20 telah muncul beberapa pemikir yang mencoba mendobrak dominasi ini dengan memunculkan filsafat yang baru. Di antara mereka adalah Popper yang berusaha mengalihkan perhatiannya dari metodologi deduktif dengan falsifikasinya. Sementara Kuhn tampil dengan gagasan revolusi ilmu pengetahuan yang ditandai dengan adanya perubahan paradigma. Dari beberapa filsuf pembaharu diatas jelas telah membawa perubahan dan kemajuan pemikiran, terutama dalam bidang filsafat ilmu. Sehingga menghasilkan pengetahuan-pengetahuan filsafat baru dari generasi ke generasi, dan pastinya semua itu sebagai jasa mereka agar dapat dianfaatkan dengan baik.







BAB VI
                                                                                                                                                                        ILMU-ILMU SOSIAL

Membuka Jalur Metodologi Baru

Comte memang telah merintis penerapan metode ilmiah ilmu-ilmu alam pada ilmu-ilmu sosial, yang mengantarkannya sebagai bapak pendiri sosiologi modern. Tujuannya bersifat praktis, yaitu atas dasar pengetahuan tentang ‘hukum-hukum’ yang mengatur masyarakat, dapat mengadakan susunan masyarakat yang lebih sempurna. Dalam semboyan positivisme “savoir pour prevoir” (mengetahui untuk meramalkan).
Kalau positivisme menerapkan metodologi ilmu-ilmu alam pada ilmu-ilmu sosial, pandangan ini beranggapan bahwa ilmu-ilmu sosial modern menganut tiga prinsip: bersifat empiris-objektif, deduktif-nomologis, instrumental-bebas nilai. Menurut Anthony Giddens, ketiga asumsi positivistis dalam ilmu-ilmu sosial ini membawa implikasi sebagai berikut. Pertama, prosedur-prosedur metodologis ilmu-ilmu alam dapat langsung diterapkan pada ilmu-ilmu sosial. Gejala-gejala subjektivitas manusia, kepentingan maupun kehendak, tidak mengganggu objek observasi, yaitu tindakan sosial. Kedua, hasil-hasil riset dapat dirumuskan dalam bentuk ‘hukum-hukum’ seperti dalam ilmu-ilmu alam. Dan ketiga, ilmu- ilmu sosial itu harus bersifat teknis, yaitu menyediakan pengetahuan yang bersifat instrumental murni. Pengetahuan itu harus dapat dipakai untuk keperluan apa saja sehingga tidak bersifat etis dan juga tidak terkait pada dimensi politis. Ilmu-ilmu sosial, seperti ilmu-ilmu alam, bersifat bebas nilai (value-free).
Persoalan serius yang selalu menarik perhatian dalam diskusi-diskusi ilmu-ilmu sosial adalah soal objek observasinya yang berbeda dari objek ilmu- ilmu alam, yaitu masyarakat dan manusia sebagai makhluk historis. Seorang teoritikus sosial Jerman terkemuka dewasa ini, Jurgen Habermas, menunjukkan positivisme dalam ilmu-ilmu sosial ini sebagai penerapan pengetahuan untuk mengontrol proses-proses alam (Verfugungswissen) pada masyarakat yang selayaknya diketahui dengan pengetahuan reflektif untuk saling pemahaman intersubjektif (Reflexionswissen). Dengan demikian, positivisme kemuian berkonsekuensi melahirkan suatu teknologi sosial pada taraf sosial, dan teknologi sosial ini pada gilirannya menjadi determinasi sosial.

A.    Fenomenologi
Istilah fenomenologi berasal dari bahasa Yunani: phainestai yang berarti “menunjukkan” dan “menampakkan diri sendiri”. Sebagai ‘aliran’epistemologi, fenomenologi diperkenalkan oleh Edmund Husserl (1859-1938), meski sebenarnya istilah tersebut telah digunakan oleh beberapa filsuf sebelumnya.  Secara umum pandangan fenomenologi ini bsia dilihat pada dua posisi, yang pertama ia merupakan reaksi terhadap dominasi positivisme sebagaimana digambarkan di atas, dan yang kedua, ia sebenarnya sebagai kritik terhadap pemikrian kritisisme Immanuel Kant, terutama konsepnya tentang fenomenon- numenon.
Sebagai reaksi terhadap pemikiran sebelumnya, berikut ini akan dibahas dua pandangan fenomenologi yang cukup penting, yaitu prinsip epoche dan eidetic vision dan konsep “dunia-kehidupan” (Lebenswelt).
1.    Prinsip Epoche dan Eidetic Vision
Tugas utama fenomenologi menurut Husserl adalah menjalin keterkaitan manusia dengan realitas. Bagi Husserl, realitas bukan sesuatu yang berbeda pada dirinay lepas dari manusia ygmengamati. Realitas itu mewujudkan diri atau menurut ungkapan Martil Heideger juga seorang fenomenolog: “sifat realitas itu membutuhkan keberadaan manusia”.  Noumena membutuhkan tempat tinggal (unterkunft) ruang untuk berada, ruang itu adalah manusia.
Husserl dalam hal ini mengajukan metode epoche. Kata epoche berasal dari bahasa Yunani, yang berarti: “menunda putusan” atau “mengosongkan diri dari keyakinan tertentu.” Epoche bisa juga berarti tanda kurung (breaketing) terhadap setiap keterangan yang diperoleh dari suatu fenomena yang tampil,  tanpa memberikan putusan benar salahnya terlebih dahulu. Dalam hal ini Husserl mengatakan, bahwa epoche merupakan thesis of the natural stand-point.  (tesis tentang pendirian yang natural), dalam arti bahwa fenomena yang tampil dalam kesadaran adalah benar-benar natural tanpa dicampuri oleh presupposisi pengamat.
Menurut G. van der Leeuw, fenomenologi mencari atau mengamati fenomena sebagaimana yang tampak. Dalam hal ini ada tiga prinsip yang tercakup di dalamnya: (1) sesuatu itu berujud, (2) sesuatu itu tampak, (3) karena sesuatu itu tampak dengan tepat maka ia merupakan fenomena.

2.    Konsep “Dunia-Kehidupan” (Lebenswelt)
konsep dunia-kehidupan merupakan konsep yang dapat menjadi dasar bagi (mengatasi) ilmu pengetahuan yang tengah mengalami krisis akibat pola pikir positivistik dan saintistik itu. Katanya: “dunia-kehidupan adalah dasar makna yang dilupakan bagi ilmu pengetahuan”.  Dunia-kehidupan dalam pengertian Husserl bisa dipahami kurang lebih, dunia sebagaimana manusia menghayati dalam spontanitasnya, sebagai basis tindakan komunikasi antar subjek.
Konsep dunia-kehidupan ini dapat memberikan inspirasi yang sangat kaya kepada ilmu-ilmu sosial, karena ilmu-ilmu ini menafsirkan suatu dunia, yaitu dunia sosial. Itulah yang dilakukan Alfred Schutz, sebagai suatu sosiologi interpretatif dengan pendekatan fenomenologi. Wilayah operasi ilmu-ilmu sosial ini, yakni dunia-kehidupan sosial, dijumpai oleh subjek (ilmuwan sosial) sebagai objek-objek yang belum terstruktur secara simbolis. Objek semacam itu merupakan pengetahuan pra-teoritis yang dihasilkan para pelaku yang bertindak maupun berbicara.
Dunia-kehidupan sosial ini tak dapat diketahui begitu saja lewat observasi seperti dalam eksperimen ilmu-ilmu alam, melainkan terutama melalui pemahaman (verstehen). Apa yang ingin ditemukan dalam dunia sosial adalah makna, bukan kausalitas yang niscaya. Tujuan ilmuwan sosial mendekati wilayah observasinya adalah memahami makna (Sinnverstehen).

B.    Hermeneutika
Istilah hermeneutika berasal dari kata Yunani: hermeneuein, diterjemahkan “menafsirkan”, kata bendanya: hermeneia artinya “tafsiran”. Dalam tradisi Yunani kuno kata hermeneuein dipakai dalam tiga makna, yaitu mengatakan (to say), menjelaskan (to explain), dan menterjemahkan (to translate). Dari tiga makna ini, kemudian dalam kata Inggris diekspresikan dengan kata: to interpret. Dengan demikian perbuatan interpretasi menunjuk pada tiga hal pokok: pengucapan lisan (an oral recitation), penjelasan yang masuk akal (a reasonable explanation), dan terjemahan dari bahasa lain (a translation from another language), atau mengekspresikan.  Menurut istilah, hermeneutika biasa dipahami sebagai: “the art and science of interpreting especially authoritative writings; mainly in application to sacred scripture, and equivalent to exegesis”  (seni dan ilmu menafsirkan khususnya tulisan-tulisan berkewenangan, terutama berkenaan dengan kitab suci dan sama sebanding dengan tafsir). Ada juga yang memahami bahwa hermeneutika merupakan sebuah filsafat yang memusatkan bidang kajiannya pada persoalan “understanding of understanding (pemahaman pada pemahaman)” terhadap teks, terutama teks Kitab Suci, yang datang dari kurun waktu, tempat, serta situasi sosial yang asing bagi para pembacanya.
Dalam perkembangannya, hermeneutika terdapat beberapa pembahasan. Josep Bleicher membagi pemabahsan hermeneutika menjadi tiga, yaitu hermeneutika sebagai sebuah metodologi, hermeneutika sebagai filsafat, dan hermeneutika sebagai kritik.24 Sementara Richard E. Palmer menggambarkan perkembangan pemikiran hermeneutika mdj enam pembahasan, yaitu hermeneutika sebagai teori penafsiran kitab suci, hermeneutika sebagai metode filologi, hermeneutika sebagai pemahaman linguistik, hermeneutika sebagai fondasi dari ilmu sosial-budaya (geiteswissenschaft), hermeneutika sebagai fenomenologi dasein, dan hermeneutika sebagai sistem interpretasi.
Sebagai Pendekatan dalam Ilmu-Ilmu Sosial Fokus utama problem hermeneutika sosial adalah terutama untuk menerobos otoritas paradigma positivisme dalam ilmu-ilmu sosial dan humanities. Sudah disebutkan, sebagai sebuah pendekatan dalam ilmu sosial, hermeneutika tidak bisa dipisahkan dengan pendekatna sebelumnya (fenomenologi). Keterkaitan antara keduanya tampak jelas, terutama dalam filsafat Heidegger.

C.    Teori Kritis (Critical Theory)
Teori Kritis merupakan pendekatan ketiga setelah fenomenologi dan hermeneutika yang berusaha mengatasi positivisme dalam ilmu-ilmu sosial dan memberikan dasar metodologis bagi ilmu-ilmu sosial, yang berbeda dari ilmu- ilmu alam. Ketiga pendekatan ini memiliki keterkaitan, baik pada taraf epistemologis maupun metodologis untuk membuka konteks yang lebih luas dari ilmu-ilmu sosial.
Teori Kritis merupakan ‘paradigma’ keilmuan yang dilahirkan oleh para filsuf yang tergabung dalam mazhab Franfurt, di Jerman. Beberapa tokohnya antara lain Horkheimer, Adorno, marcuse dan lain-lain, termasuk J├╝rge Habermas, sebagai salah seorang filsuf ‘generasi kedua’ yang pemikirannya menjadi fokus pembahasan ini.
Teori Kritis itu sendiri sebenarnya dirumuskan oleh Marx Horkheimer dan para filsuf yang tergabung dalam Mazhab Franfurt, sedang posisi Habermas adalah sebagai pembaharu. Berbeda dari Marxisme ortodoks, Teori Kritis hendak mengembalikan Marxisme menjadi filsafat kritis. Karena sifatnya yang kritis, Teori Kritis dimaksudkan sebagai inspirator dan katalisator bagi sebuah gerakan dalam masyarakat sebagaimana watak marxisme, yang genuine dan kritis- revolusioner. Akan tetapi pemikiran (Teori Kritis) mazhab Franfurt ternyata mengalami kebuntuan. Kebuntuan itu menurut Habermas disebabkan: (a) terjebak oleh daya integratif sistem masyarakat kapitalisme lanjut (the old capitalism), padahal dalam kenyataannya kaum buruh tidak mesti sepenuhnya terhegemoni dalam masyarakat kapitalis itu; (b) Teori Kritis tetap bertolak pada pandangan Marx yang terlalu pesimis terhadap manusia yang memandang manusia semata- mata makhluk ekonomi dengan dialektika materialnya; dan (c) Teori Kritis sepenuhnya pemikiran Marx, bahwa manusia adalah makhluk yang bekerja, yang berarti juga menguasai.
1.    Rasio Instrumental dan Rasio Komunikasi
Ada tiga interest (kepentingan) yang memang telah tertanam kuat di dalam dasar-dasar antropologi manusia, yaitu kepentingan bersifat teknis, praktis, dan emansipatoris. Atas dasar tiga interest tersebut, kemudian Habermas menunjukkan implikasinya dalam tiga disiplin ilmu pengetahuan. Interest pertama berkaitan dengan kebutuhan manusia akan reproduksi dan kelestarian dirinya, yang melahirkan ilmu pengetahuan yang bersifat empiris-analitis. Interest kedua berhubungan dengan kebutuhan manusia untuk melakukan komunikasi dengan sesamanya di dalam praktek sosial yang menimbulkan suatu ilmu pengetahuan yang bersifat histories-hermeneutis. Lalu interest ketiga berhubungan dengan kepentingan yang mendorong dirinya untuk mengembangkan otonomi dan tanggung jawab sebagai manusia, dan tercermin dalam jenis ilmu pengetahuan yang bersifat sosial kritis.  Masing-masing ketiga ilmu tersebut berhubungan dengan tiga aspek eksistensi sosial manusia: yaitu kerja, interaksi (komunikasi) dan kekuasaan. Tiga interest, tiga macam filsafat ilmu, dan tiga macam eksistensi sosial manusia berkaitan satu sama lainnya.
Kepentingan teknis bersangkutan paut dengan pengendalian alam melalui “rasio instrumental”.  “Rasio instrumental” selalu berbicara dengan sarana hukum-hukum rasional dan silogisme, bukan didasarkan pada pola hubungan subjek-objek. Rasio inilah yang menggerakkan dan mengarahkan suatu tindakan rasional. Tindakan rasional tersebut selalu memiliki sasaran tertentu, yaitu kerja teknis.

2.    Kritik Ideologi
Dalam persoalan kritik ideologi, Teori Kritis mempunyai tugas pandangan. Pertama, kritik secara radikal terhadap masyarakat dan ideologi- ideologi dominan, tidak bisa dipisahkan; tujuan akhir dari keseluruhan penelitian sosial tidak lain adalah elaborasi secara integral dari bentuk kritik, radikal ini. Kedua, kritik ideologi tidak dilakukan untuk memberikan semacam justifikasi dalam bentuk ‘kritik moral’. Segala bentuk ideologis dari sebuah kesadaran tidak akan diteliti apakah dia benar, memuaskan, buruk, dan sebagainya.
Kritik ideologi mempermasalahkan apakah sesuatu hal itu merupakan kesadaran palsu, khayalan atau lainnya. Meski harus dipahami bahwa kritik ideologi sendiri masih berada dalam taraf kognitif, ia merupakan bagian dari taraf pengetahuan, yaitu pengetahuan sosial-kritis (bukan sebagai bentuk ideologi baru). Ketiga, sebagai ‘jiwa’ dari ilmu pengetahuan sosial-kritis, kritik ideologi secara khusus diletakkan dalam menganalisa perubahan-perubahan penting dalam pandangan dan kerangka epistimologis tradisional.
Dalam kerangka ini, ideologi dipahami Habermas sebagai kepercayaan, norma atau nilai yang dianut dan dikenal sebagai weltanschauung (wold view), sekaligus merupakan suatu sudut pandangan tertentu dalam memandang realitas sosial. Menyangkut penelitian sosial, ideologi berperan mempengaruhi pemilihan tentang apa yang dilihat dan bagaimana memandangnya. Keterlibatan emosional yang kuat terlihat jelas, dan karenanya penelitian yang ‘bebas nilai’ adalah ilusi.





BAB VII
                                                                                                                                                               BERKENALAN DENGAN EPISTEMOLOGI ISLAM

Pembahasan ini akan membicarakan rekonstruksi Al-Jabiri  tentang tipologi “Epistemology Islam”, yaitu : Bayani, Irfani, dan Burhani.

A.    Epistemologi Bayani
 Bayani dalam bahasa arab berarti penjelasan (explanation). Arti asal katanya adalah menyikap dan menjelaskan sesuatu, yaitu menjelaskan maksud suatu pembicaraan dengan menggunakan lafadz yang paling baik (komunikatif). Para ahli ushul fiqih memberikan pengertian, bahwa bayan adalah upaya menyikap makna dari suatu pembicaraan serta menjelaskan secara terperinci hal-hal yang tersembunyi dari pembicaraan tersebut kepada para mukalaf artinya bisa disebut sebagai upaya mengeluarkan suatu ungkapan dari keraguan menjadi jelas.
Makna Al-bayan disini mengandung empat pengertian, yaitu al-fasl wa al-infishal dan al-dzuhur wa al-idzhar, atau bisa harus disusun secara hirarkis atas dasar pemilihan antara metode (manhaj) dan visi (ru’yah) dalam epistemology bayani, dapat disebutkan bahwa al-bayan sebagai metode berarti al-fasl wa al-infishal, sementara al-bayan sebagai visi berarti al-dzuhur wa al-idzhar.  Epistemology bayani terpaku pada teks atau dasar-dasar yang telah ditetapkan sebagai landasan baku dan tetap yaitu berupa Al-qur’an, As-sunnah, Ijma, dan qiyas.
Proses peletakan aturan-aturan peafsiran wacana dalam bentuknya yang baku dan tidak dalam aspek linguistic saja, dilakukan untuk pertama kalianya oleh al-syafi’I yang kemudian dianggap sebagai peletak dasar aturan-aturan penafsiran wacana bayani. Perkembangan berikutnya adalah Ibn wahb. Ia menambahkan pemahaman terhadap bayan dengan merumuskan dari sisi tingkat kepastian atau penunjukanya.
Epistemology bayani selalu berpijak pada ashl (pokok) yang berupa teks (nash) keagamaan, baik secara langsung dan selalu berpijak pada riwayah (naql).  Karena menjadikan nash sebagai sumber (origin) pengetahuan, maka yang menonjol dalam epistemology bayani ini adalah tradisi memahami dan memperjelas teks, yaitu dengan berpegang pada teks dzhahir (tekstualisme).
Aspek Metodologi, metode yang dipakai dalam nalar bayani ini mendapatkan keselarasan jalanya dengan model argument yang dipergunakan, yakni bersifat jadali, yang tidak lagi membutuhkan hal baru dalam pembuktian keilmuanya, karena didukung oleh asumsi yang aksiomatik. Tradisi epistemology bayani yang tercermin dalam fiqh, balagah, nahwu, dan kalam, dalam system pengetahuanya menggunakan beberapa kerangka teori sebagai media analisis, yaitu lafadz dan makna : Ushul dan Furu, serta argument tentang jauhar dan aksidensi.
Konsep lafadz dan makna, pembahasan ini meliputi dua aspek, yaitu aspek teoritis (nadzari) dan aspek praktis (tathbiq). Tatanan teoritis berkisar pada pembahasan masalah bahasa, sedang dalam tataran praktis berkaitan dengan penafsiran titah (hithab) syara’. Para ahli pikir Mu’tazilah sepakat bahwa makna itu berdasar konteks. Sedangkan dari kalangan Asy’ariah berpendapat bahwa makna lafadz itu berdasar tauqifi. Sedangkan dalam konsep ushul dan furu ada dua persoalan yang menarik untuk dikaji, pertama kajian tentang otoritas tradisionalis dan kaitannya dengan sunah dan kedua, masalah qiyas bayani dan problematika analisisnya.
Problem Substansi dan Aksidensi, perbincangan mengenai substansi dan aksidensi ini terutama sekali terjadi pada pergumulan para ulama kalam, yaitu ketika memperbincangkan masalah ilmu Allah yang dikatakan meliputi segala sesuatu. Lalu apa yang dimaksud sesuatu itu? Dari sini kemudian muncul perbincangan masalah ‘substansi’ yang dimaksud substansi (al-jauhar al-fard) adalah sesuatu yang tidak terbagi lagi, dalam istilah bahasa arab disebut al-dzarah. Sedang aksidensi (al-ardl) diterjemahkan sebagai sesuatu yang datang dan pergi atau segala yang tidak bisa berdiri sendiri.

B.    Epistemologi Irfani
Irfani berasal dari kata irfan yang dalam bahasa arab merupakan bentuk dasar (masdar) dari kata ‘arafa, yang semakna dengan ma’rifat.  Dalam bahasa arab, istilah al-irfan berbeda dengan kata al-ilm menunjukan pemerolehan objek pengetahuan (al-ma’lumat) melalui transpormasi (naql) ataupun rasionalitas (aql) sementara irfan atau m’rifat berhubungan dengan pengalaman atau pengetahuan langsung dengan objek pengetahuan.
Dikalangan mereka, irfan dimengerti sebagai ketersingkapan lewat pengalaman intuitif akibat persatuan antara yang mengetahui dan yang diketahui (ittihad al-arif wa al-ma’ruf) yang telah dianggap sebagai pengetahuan tertinggi. Bagi kalangan irfaniun pengetahuan tentang tuhan (Hakiakt Tuhan) tidak diketahui melalui buti-bukti empiris-rasional, tetapi harus  melalui pengalaman langsung (mubasharah).
Jika sumber pokok (origin) ilmu pengetahuan dalam epistemology bayani adalah Teks (wahyu), dalam epistemology irfani ini sumber pokoknya adalah experience (pengalaman). Epistemology irfani lebih bersumber pada intuisi, bukan pada teks. Oleh karena itu pendekatan yang digunakan dalam penggalian ilmu adalah psikognosis, intuisi, ilham qalb, dlamir dan semacamnya. Secara metodologis pengetahuan irfani tidak diperoleh berdasarkan rasio, tetapi menggunakan kesadaran intuitif  dan spiritual, karenanya pengetahuan yang dihasilkannya adalah pengetahuan yang sui generis, pengetahuan yang paling dasar dan sederhana. Yaitu pengetahuan yang tidak tereduksi, bahkan terkadang sampai pada pengetahuan yang ta terkatakan (unspeakable).
Pola pikir yang dipakai kalangan irfaniun adalah berangkat dari bathin menuju yang dzahahir. Bathin bagi mereka sumber pengetahuan, karena batin adalah hakikat, sementara dzhahir adalah teks (Al-qur’an dan Hadist) sebagai pelindung dan penyinar. Corak nalar yang ditekankan epistemology irfani adalah spiritualitas eso-terik yang bersifat lintas bahasa, agama, ras, etnik golongan, kultur dan tradisi, bukan sebaliknya pada wilayah eksternal-eksoterik yang lebih menekankan identitas lahiriyah.

C.    Epistemologi Burhani
Pengertianya dalam bahasa Arab, al-Burhan berarti argumen (al-hujjah) yang jelas (al-bayinah; clear), yang dalam bahasa inggris adalah demonstration, yang memilki akar bahasa latin Demonstratio (berarti member isyarat, sifat, keterangan, dan penjelasan). Dalam persfektif logika (al-mantiq), burhani adalah aktiftas berfikir untuk menetapkan kebenaran suatu premis melalui metode penyimpulan, dengan menghubungkan premis tersebut dengan premis yang lain yang oleh nalar dibenarkan atau telah terbukti kebenaranya (badlihiyyah). Sedang dalam pengertian umum, Burnai adalah aktifitas nalar yang menetapkan kebenaran suatu premis.
Jika dibandingan dengan kedua epistemology yang lain, bayani dan irfani, dimana bayani menjadikan teks, ijma, dan ijtihad sebagai otoritas dasar dan bertujuan untuk membangun konsepsi tentang alam untuk memperkuat akidah agama, yang dalam hal ini Islam. Sedang irfani menjadikan al-kasyf sebagai satu-satunya jalan didalam memperoleh pengetahuan dan sekaligus bertujuan mencapai maqam bersatu dengan tuhan. Maka Burhani lebih bersandar pada kekuatan natural manusia yang berupa indera, pengalaman dan akal didalam mencapai pengetahuan.
Setiap ilmu burhani berpola dari nalar burhan bermula dari proses abstaksi dari yang bersifat akali terhadap realitas sehingga muncul makna, sedang makna sendiri butuh aktualisasi sebagai upaya untuk bisa difahami dan dimengerti, sehingga disinilah ditempatkan kata-kata; atau dengan redaksi lain, kata-kata adalah sebagai alat komunikasi dan sarana berfikir disamping sebagai simbuol pernyataan makna.
Secara structural, proses yang dimaksud diatas terdiri dari tiga hal yaitu : pertama, adalah proses eksperimentasi, yakni pengamatan terhadap realitas. kedua proses abstaraksi, yakni terjadinya gambaran atas realita tersebut dalam piokiran dan ketiga, adalah ekspresi yaitu mengungkapkan realitas dalam kata-kata.  Dan al-jabiri dalam hal ini menegaskan bahwa setiap yang burhani pasti silogisme, tetapi belum tentu yang silogisme itu burhani.

D.    Illuminasi Al-Suhrawardi
Diskursif dan Intuitif: Metode dasar Filsafat Israqiyah
Filsafat diskursif merupakan sikap metodologi dan bahasa teknis filsafat, yang kebanyakan diasosiasikan dengan karya-karya peripatetic. Istilah seperti baths, al-hikhmah al-bahtsiyyah, thariq al-masysya’in, semua menunjuk pada filsafat ini. Yang signifikasi bagi suhrawardi bukanlah penolakan baths itu, tetapi justru menggabungkan baths yang diformulasi dalam filsafat illuminasi dan direkonstruksikannya.
Sedang filsafat intuitif, menurut suhrawardi adalah metode dan titik berangkat bagi rekonstuksi filsafat, termasuk sasaran filsafat illuminasi (yang ingin dicapai oleh para praktisi) dan dimasukan sebagai suatu system yang sepurna. Untuk menunjuk filsafat/metode intuitif ini istilah yang digunakan seperti dzawq, al-hikmah al-dzawqiyyah, al-ilm al-hudhuri, al-ilm al-syuhudi meski ada beberapa perbedaan.
Suhrawardi secara jelas menegaskan bahwa filsafat diskursif (al-hikmah al-israqiyyah) adalah unsur penting filsafat intuitif, hanya dengan sebuah kombinasi yang sempurna dari kedua metodologi itu yang akan membimbing kearah kebijaksanaan sejati (hikmah), itulah tujuan filsafat illuminasi.
Ciri utama metode diskursif peripatetic adalah apa yang sekarang kita kenal dengan logika formal, yang menuntut kebenaran proposisi. Menurut logika ini pengetahuan yang benar dapat dicari (mathlub).  Aplikasi lebih jauh dengan kata sesuatu itu dapat diketahui, dengan cara mendefinisikanya dengan benar inilah proses tahu menurut filsafat peripatetic.
Kebijaksanaan pada dasarnya diperoleh melalui illuminasi (israqiyyah), dan sebagian dibimbing dengan memperkenalkan logika. Karenanya dalam pandangan ini intuisi, inspiratif, dan wahyu adalah alat-alat yang diketahui sebelum investasi logis dan sebagai dasar bagi elaborasi pengetahuan selanjutnya, dan lebih jauh berperan sebagai langkah pertama dalam membangun ilmu yang benar (al-ilmu al-shabih).
Pengetahuan illuminasi berbeda dengan pengetahuan peripatetic, yang mengambil bentuk konsepsi kemudian konfirmasi bukanlah pengetahuan predikatif.  Pengetahuan illuminasi didasarkan pada hubungan yang diperoleh, dengan tanpa ekstensi waktu atau terjadi dalam waktu yang sangat singkat antara “objek” yang hadir dan “subek” yang mengetahui dan ini diyakini Suhrawardi sebagai jalan yang paling valid bagi ilmu pengetahuan.
Pengetahuan illuminasi ini, sebenarnya didasarkan pada aktivitas jiwa, yang di realisasikan melalui pengetahuan diri dan diasosiasikan dengan bentuk persefsi tertentu yang disebut visi (musyahadah) atau “cahaya”. Disamping itu prinsif dasar pengetahuan diri adalah hubungan antara “aku” dengan esensi sesuatu melalui jalan “wujud” sesuatu. Prinsif illuminasi memungkinkan subjek mengetahui sesuatu sebagimana adanya, yaitu mengetahui esensinya. Pengetahun illuminasi tersebut didasarkan pada pengalaman “kehadiran sesuatu” yang bukan bentuk pengetahuan predkatif, tetapi karena hubungan antara subjek dan objek, pengetahun ini disebut pengetahuan yang didasarkan pada illuminasi dan kehadiran.

Rangkuman/hasil Resume ini diambil berdasarkan dari Buku “FILSAFAT ILMU”
Referensi :

Muslih, Muhammad.  Filsafat Ilmu : Kajian atas Asumsi Dasar, Paradigma dan Kerangka Teori Ilmu Pengetahuan.  Yogyakarta. Belukar, 2004.

Sekian dan Terimakasih…


 “Suhendra”



2 comments: